Rubiah

RUBIAH

Perempuan tua yang bernama Rubiah itu tercampak, suaminya tak cinta lagi. Sebagian anak-anaknya yang telah kaya dan mapan pun tak sayang lagi. Si bungsu yang paling papa pun seakan tak peduli. Ia meniti hari yang kian sunyi, sendiri.


Sore itu, Rubiah tua termenung di beranda rumahnya yang juga sudah tua. Matanya menerawang jauh ke depan. Pikirannya yang kalut meloncat-loncat menggugah kenangannya. Kala dirinya masih muda, cantik, dan anggun …

Saat itu, ia bersama suaminya berencana menembus blokade Belanda. Suaminya yang terkenal pemberani dan tergolong pejuang tangguh nampak serius memperhatikan rencana yang ia uraikan. Mereka sering mendengar bahwa penjagaan Belanda di perbatasan sangatlah ketat dalam mengadakan pemeriksaan, khususnya terhadap perempuan cantik, seperti Rubiah. Oleh karena itu, mereka memandang perlu untuk menyusun strategi baru agar dapat mengelabui pengawas Belanda di perbatasan.

Jauh tengah malam, Rubiah mengendap-endap masuk gerbong kereta api. Suami dan kawan-kawan seperjuangan suaminya ikut memperlancar usaha ini. Kala itu, mereka bersimpati pada Rubiah yang bertekad menjenguk anak-anaknya yang tinggal di daerah yang dikuasai Belanda.

Rubiah meringkuk bak kucing kurus yang kedinginan di bawah kursi. Sementara itu, suami dan kawan-kawannya yang menyamar sebagai pedagang menutupinya dengan tumpukan kelapa, nangka, daun pisang, dan berbagai jenis sayuran. Dengan begitu, ia tak tampak lagi, tak dapat bergerak lagi, dan nyaris tak dapat menghirup udara segar lagi.

Menjelang pagi, ketika kereta api mulai melaju, goncangannya sangatlah mengganggu. Rubiah muda makin terhimpit, makin terjepit. Ia berusaha untuk bertahan, berusaha untuk tegar, demi anak-anak terkasih. Seiring dengan laju kereta api, matahari pun kian meninggi. Panasnya mulai membakar bumi. Rubiah menggeliat kegerahan. Peluh mulai menitik di dahi, di pelipis, di tengkuk, di ketiak, dan di seluruh bagian tubuh miliknya. Meski sulit, Rubiah berusaha untuk menggeliat lagi.

Penderitaan Rubiah makin menjadi-jadi. Saat itu, suaminya menyebut-nyebut wanita lain dengan suara yang terdengar mesra, Doliar. Perempuan kulit putih yang tinggal di seberang sungai di daerah tempat tinggalnya. Doliar adalah perempuan kaya, cantik, menarik, genit, dan amit-amit … suka mengganggu suami orang.

Tarikan nafas panjang Rubiah terdengar lagi. Kini, dalam usia perkawinannya yang ke 64, sebagian anak-anaknya telah beranjak dewasa, mandiri, dan kritis dalam menilai kehidupan. Sebagian lagi, asyik bermanja-ria dengan tahtanya, hartanya, dan wanita-wanita piaraannya. Sebagian yang lain, tumbuh menjadi kaum oportunis dengan jati diri yang tidak jelas. Yang paling menyedihkan adalah, mereka yang masih kembang-kempis berjuang untuk mengusir kemiskinan dan kebodohan dari dalam lingkaran hidupnya. Mereka tidak ingin miskin dan tidak ingin bodoh. Apalagi, dimiskinkan dan dibodohi.

Dari semua anak-anaknya, dalam pandangan Rubiah, si bungsu terlihat paling berbakti. Ia tidak seperti ayahnya yang suka selingkuh dengan Doliar. Ia pun tidak suka main perempuan-perempuan seperti kakak-kakaknya yang lain. Bahkan, dengan perempuan cantik yang bernama Yeni, wanita berkulit kuning, bermata sipit yang tinggal di depan rumahnya pun, ia tak kenal. Kemana pun pergi, Rubiah diajak serta. Kadang, karena kasihan, Rubiah menolak ajakan anaknya itu. Rubiah tak tega. Ia benar-benar seorang ibu yang tahu diri, tahu menjaga perasaan anaknya yang miskin.

Dari atas kursi tuanya, Rubiah melihat suami dan beberapa orang dari anak anaknya saling dorong di depan pintu rumah Doliar. Mereka berebut untuk mengetuk pintu. Beberapa tangkai bunga hias yang mereka bawa pun patah dan jatuh. Lagi-lagi Rubiah menghela nafas panjang. Yang paling menyakitkan, ketika diam-diam suaminya dan anaknya yang besar-besar membawa Doliar masuk ke rumahnya …

”Nauzubillah,” seru Rubiah lirih. Matanya berkaca-kaca melihat ulah mereka. ”Jika cintanya pada Doliar, mengapa tidak kawin saja dengannya?” gumannya. Ia tak habis pikir, setan mana yang telah mempengaruhi suaminya sehingga dapat jatuh hati pada perempuan pirang itu. Ia merenung, ”Anak dan bapaknya sama saja”.

Rubiah meraih cermin tua warisan leluhur yang tergeletak malas di atas meja. Ia tersenyum tipis. ”Aku masih cantik. Kalaupun ada kekurangan, itu hanya sedikit kantung air di pelupuk mata”. Rubiah tersenyum lagi kala menyisir rambutnya yang ikal dan panjang, ”Rambutku masih bagus, hanya kusut”. Mata Rubiah tak berkedip menatap cermin, ”Segembrot itukah aku?” teriaknya, namun suaranya tak juga keluar dari mulutnya.

”Ibu harus tegar,” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Rubiah dan membuyarkan lamunannya, ”Ibu harus tegar,” ulangnya.

Rubiah tua menoleh, dilihatnya si Bungsu telah berdiri di sampingnya. Ia berusaha tersenyum. Meskipun ia menyadari, senyumnya hambar adanya, tak lagi indah seperti kemarin-kemarin.

Tangan si bungsu meraih tangan Rubiah. Ia menciumnya dengan lembut dan penuh kasih. Rubiah merasakan adanya denyut ketulusan dalam tarikan nafas anaknya. Ia pun merasakan kasarnya telapak tangan si Bungsu. Rubiah tersadar, beban hidup si bungsu jauh lebih berat jika dibandingkan dengan kakak-kakanya, apalagi jika dibandingkan dengan ayahnya. Hati Rubiah bergolak tak karuan …

”Saya harus bertindak, Bu”.
”Maksudmu?” tanya Rubiah tak mengerti.
”Saya harus sadarkan mereka,” tukas si bungsu, ”Mereka harus sayang pada Ibu. Mereka tidak boleh seperti itu. Mereka harus kembali kepada Ibu, entah bagaimana caranya”.
”Ibu tak berdaya, Nak,” sahut Rubiah putus asa. ”Kau tahu, Doliar tetap cantik meskipun usinya jauh lebih tua dari Ibu. Ia menarik hati setia lelaki. Ibumu kalah jauh dengannya”.

Si Bungsu menghela nafas panjang. Ia tidak bisa menerima kenyataan pahit yang ada di depan matanya. Ia masih ingin membela ibunya. ”Sebenarnya, Ibu juga masih cantik,” kata si Bungsu menghibur, ”Hanya, … mereka saja yang tidak tahu diri …”.

Untuk beberapa saat, kamar Rubiah yang sempit itu hening.
”Menurut Ibu, apa yang harus saya lakukan?” tanya si Bungsu memberanikan diri.
Rubiah tidak juga segera menjawab. Matanya yang berkantung memandang lurus ke depan. Seakan dengan begitu, ia tahu titik akhir dari jalan pikirannya.

”Sadarkan mereka dengan lemah lembut. Jangan paksa mereka untuk kembali kepada Ibu. Ingat, kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah”.
”Iya, Bu,” jawab si Bungsu dengan suara bergetar, menahan getar-getar kemarahannya yang kian menggelegak.

”Sekali lagi, hadapi mereka dengan lembut, dengan bijak, dan jangan gegabah. Ingat, yang kau hadapi adalah ayahmu dan juga kakak-kakakmu yang sudah besar-besar. Ibu tidak ingin kalian ribut gara-gara Ibu …”.
”Percayalah, Bu. Saya akan bertindak sesuai dengan nasihat Ibu”.

Rubiah tersenyum haru mendengar kesanggupan anak bungsunya. Anaknya yang seakan tak pernah peduli padanya karena kepapannya, ternyata masih mau menyayangi dan mau menghormatinya. Rubiah tahu itu.

”Eh, Bu … Sebelum saya kembali, Ibu harus bersolek. E … e … e …, maaf, ya, Bu …”.
”Maksudmu?”
”Ibu tidak akan marah?”
Rubiah menggeleng cepat.
”Mmm, saya lihat, baju Ibu sudah tidak muat lagi … sudah sesek, methethet, dan ngapret …,” kata si Bungsu takut-takut.
Rubiah tersentak kaget, ”Jadi menurutmu, pakaian Ibu perlu diperbesar lagi? Ingat, baju ini sudah sering diperbesar”.
”Bukan itu maksud saya … Ingat, Ibu janji tidak akan marah”.
”Lantas? Apa yang musti Ibu lakukan?”
”Maksud saya, maksud saya … Ibulah yang harus mengecilkan diri. Jadi, bukan bajunya yang terus menerus diperbesar …”.
”Ooo …,” seru Rubiah mulai maklum akan maksud anak bungsunya. Sejuta rasa berkecamuk di dalam hatinya, gusar, marah, jengkel, sedih, pilu, sesal, harap, dan entah apalagi … Semua bercampur menjadi satu, mendera silih-berganti.

Di antara rintik gerimis di akhir bulan Mei 2010, terlihat si Bungsu berdiskusi dengan banyak mata di teras rumah Doliar. Di situ ada ayah dan kakak-kakaknya. Mereka berbincang panjang lebar tentang nasib, tentang nama baik, dan tentang martabat.

Sementara itu, di sudut kamarnya yang sempit, Rubiah minum jamu susut perut setelah ia lelah melakukan senam aerobik …***

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di dua lembar dan tag , , , , . Tandai permalink.