119. BELA NEGARA GURU

119. Bela Negara Guru

Dalam tulisan ini, yang saya maksud dengan guru adalah siapa saja yang melakukan kegiatan belajar mengajar pada pendidikan formal, tidak peduli pada jenjang apa yang bersangkutan berada. Oleh karena itu, dengan sendirinya, dosen termasuk di dalamnya.

Guru melakukan bela negara? Ah, mana mungkin. ”Guru” lagi sibuk mengurus peningkatan kesejahteraannya, mengurus kenaikan pangkatnya, mengurus sertifikasi dengan rajin mengikuti penataran, pelatihan, seminar, ataupun lokakarya. Alih-alih mengurus bela negara, mengurus murid-muridnya saja sering kedodoran. Jadi, mana sempat? Lagi pula, urusan negara sudah ada yang mengatur sendiri …

Cara pandang semacam itu, jelas sempit dan kerdil. Dalam hal ini, sekedar mengingatkan, hak dan kewajiban bela negara melekat pada setiap warga negara, tanpa kecuali tentunya.
Mari kita pisahkan antara guru sebagai person dengan guru abdi negara.

Sebagai person, hak dan kewajiban bela negara bagi guru dapat dipilah menjadi dua bagian yaitu skala makro dan skala mikro. Pada skala mikro, pembelaan tersebut ada pada kelas /mata pelajaran /mata kuliah yang menjadi tangung jawabnya. Sedangkan pada skala makro, pembelaan tersebut ada di medan juang yang biasa disebut lembaga pendidikan formal (baca: Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Kejuruan, dan Pendidikan Tinggi) tempat yang bersangkutan mendarmabaktikan ilmunya pada Pertiwi.

Dengan demikian, ketika seorang guru mengajarkan bagaimana cara mencangkok, atau ketika seorang guru mengajarkan bagaimana cara kerja pesawat jet, atau ketika seorang guru membimbing siswanya meneliti keberadaan zat aditif pada makanan, atau seorang guru besar meneliti tesis mahasiswanya, dan sebagainya, maka guru tersebut masih berkedudukan sebagai person. Artinya, yang bersangkutan ”masih” dalam tataran Bela Negeri.

Begitu pula ketika seorang guru melakukan pembimbingan kepada siswanya saat menghadapi berbagai macam lomba, baik di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional pun masih dalam kategori person.

Mungkin Anda bertanya, bukankah pada saat lomba di tingkat regional /internasional nama Indonesia sudah dibawa? Memang, nama besar Indonesia sudah dibawa. Tapi, Anda harus ingat bahwa posisi guru ”hanya” sebagai agen perubahan. Artinya, guru sini hanya sebagai pion ” pendidikan”. Sedangkan guru yang sebenarnya, yang dipandang sebagai pencipta perubahan, yang dipandang sebagai raja ”pendidikan” ada di sana.

Dengan demikian, yang terjadi sebenarnya adalah, yang menang dalam lomba (jika menang) adalah global, bukan Indonesia –Menang dalam proses, namun kalah pada hasil. Apa gunanya? Buktinya, pada akhirnya, mereka yang pintar-pintar diambil global untuk menggerus negeri sendiri. Dalam hal ini, nenek moyang kita sudah menyindir dengan halus. Anda harus ingat dengan pesan moral yang terkandung dalam kisah Palguna Palgunadi.

Sebagai abdi negara, yang dipandang guru sebagai kelas adalah seluas tanah air dan yang dipandang sebagai siswa adalah seluruh anak bangsa. Oleh karena itu, di dunia nyata, ketika berposisi sebagai abdi negara, guru tak ubahnya dengan Kumbakarno. Ia memilih pergi tidur daripada melihat dan terlibat dalam keangkaramurkaan rajanya, Rahwana yang tak dapat diingatkan. Sedangkan di dunia maya, ia sudah berada di tengah medan perang dan mengobrak-abrik tentara lawan ….

Riilnya, sebagai abdi negara, guru sini menawarkan cerita lain untuk menggantikan cerita guru sana yang penuh tipu daya (baca: pemiskinan, pengerukan sumber daya alam, penetrasi kekuasaan, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), ketidakadilan, ketidakpastian, dan sebagainya). Dalam kurun waktu 64 tahun 9 bulan 15 hari, hasil pekerjaan guru sana yang dikerjakan oleh guru sini sudah sangat telanjang di depan mata.

Dalam kondisi masyarakat yang meterialis, masih adakah yang mau diajak guru untuk bela negara? Untuk menyelesaikan revolusi yang belum selesai? Jika tidak mau, berhentilah bermimpi bahwa kemerdekaan sudah berada di tangan bangsa sendiri, berhentilah bermimpi akan realisasi janji manis kemerdekaan. Jika mau maka satukan hati, satukan langkah, dan rapatkan barisan untuk melakukan perubahan dengan meragakan Tarian Raja Garuda di muka bumi. InsyaAllah, INDONESIA akan adil dan makmur …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 119. BELA NEGARA GURU

  1. Indrawati ajach. berkata:

    Tidak semua guru bermimpi dan tidak semua komersial .
    Masih ada guru guru yg lain dg penuh pengabdian berjuang tuk bela negara sesuai kemampuannya .
    Masalah: ketidak adilan ke tidak pastian tipu daya dll itu dinamika kehidupan .
    Di sini saya akan menyampaikan slogan 1 kata :
    wahai anak bangsa maju dan runtuhnya negeri ini ada di tanganmu dan dunia ini ada di genggamanmu .

    • sugiarno berkata:

      Syukurlah jika masih ada. Saya hanya khawatir, jangan-jangan semua guru di republik ini telah tergilas lokal dan tergerus global …

Komentar ditutup.