122. MILITANSI SIPIL

122. Militansi Sipil

Pengantar
Ketika nilai segala gerak hanya dilihat dari sudut suka atau tidak suka maka subyektifitas yang akan mengemuka. Gejala ini jelas tidak akan menghasilkan kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Alih-alih kedamaian yang tecipta, justru keributan di segala lini kehidupan yang akan timbul.

Militansi Sipil

Militan n bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras
Militansi n ketangguhan dalam berjuang (menghadapi , kesulitan, berperang, dsb)
(Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1990, 583)

Sipil a berkenaan dengan penduduk atau rakyat (bukan militer)
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990, 846)

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, yang sudah tidak dapat ditawar lagi. Singkatnya, NKRI harus dipertahankan dengan cara bagaimanapun juga.

Untuk mempertahankan NKRI, Indonesia harus kuat dalam menghadapi gempuran global serta amok lokal. Secara fisik, tugas ini diemban oleh yang mempunyai kekuatan fisik kuat di antara semua elemen kehidupan bangsa ini. Padahal, yang mempunyai fisik kuat dan diakui secara struktur adalah tentara. Menugasi mereka menghadapi kaduanya secara frotal, jelas bukan cara cantik. Membiarkannya menjadi bahan mainan dan dimanfaatkan oleh keduanya juga bukanlah cara terpuji.

Dengan bahasa sederhana dapat dinyatakan bahwa tentara harus menghadapi “musuh” dari depan (baca: global) dan “musuh” dari belakang (baca: lokal). Kondisi ini jelas tidak adil. Mereka harus memainkan “pedangnya” pada saat yang sama, pada dua bidang yang berbeda.

Padahal, yang mempunyai kekuatan besar di negara ini bukan hanya tentara semata. Masih ada kekuatan lain yang setara dengannya, yaitu sipil “tertentu”. Kekuatan sipil “tertentu” ini harus dimanfaatkan untuk membantu /meringankan tugas militer. Dengan begitu, “pedang” tentara hanya menghadap ke satu arah dan kekuatannya tidak terpecah.

Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan sipil “tertentu” itu? Ingat, mereka kuat, tapi bukan tentara, mereka adalah rakyat. Kekuatan mereka ada pada agama yang dianut. –Sebaiknya, Anda berhenti di sini dan melihat Noto Nusa (-ntara) terlebih dahulu dan lanjutkan dengan melihat Antara Penguasa Negara dengan Penguasa Negeri.

Pada setiap agama, ada sebagian di antara penganutnya yang mempunyai kekuatan fisik yang perlu diberi tampat untuk mendarmabaktikan kekuatannya pada Ibu Pertiwi. Pengabdian mereka pada tanah air bukan sebatas ilmu (dunia), namun lebih luas dari itu. Dimensi pengabdian mereka sudah masuk dalam areal iman (kehidupan sekarang dan kehidupan nanti). Dengan demikian, sesungguhnya, mereka taat kepada pemerintahnya, kepada pembawa agamanya, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, jangan heran jika mereka berani mati demi menyelamatkan saudara mereka yang seiman dari gangguan sipil lain –meski tidak jarang yang dibela malah menyalahkan. Harap maklum, yang mereka bela mengidap phobi agama. Sebagaimana jenis penyakit yang lain, phobi ini tidak hanya diidap oleh yang kecil. Padahal, mereka mengaku beragama. Tapi, takut menjalani hidup sesuai tuntunan agama yang dianutnya.

Padahal, Manusia Indonesia yang baik adalah mereka yang bisa menjalani hidup sesuai dengan ajaran agamanya, sesuai dengan ayat-ayat yang tercantum dalam kitab sucinya. Tentu saja, sebatas kemampuan maksimal yang dia punya.

Dulu, tentara dan rakyat bersatu mengusir “penjajah”. Hasilnya, “penjajah” telah pulang ke negara asalnya. Kemudian, tentara pulang ke baraknya. Rakyat –yang dalam hal ini diwakili oleh sipil “tertentu”– pun pulang ke dunia sipilnya. Mereka semua pulang dengan membawa sejuta kenangan, baik kenangan manis maupun kenangan pahit. Saat itulah, kekuatan Merah Putih benar-benar bersatu.

Tentara, sudah mendapatkan tempat untuk pulang, yaitu barak. Sedangkan sipil “tertentu” belum mendapatkan tempat untuk kembali. Tentang kemudian tentara juga terusir dari baraknya dengan cara halus, itu masalah lain. Sampai di titik ini, jika kemudian sipil “tertentu” “menunaikan” kewajibannya, salahkah? Sesungguhnya, yang dilakukan sipil “tertentu” itu hanya berusaha menjaga pagarnya sendiri.

Untuk itu, agar mendekati adil maka pada daerah X dengan mayoritas penganut agama Y di situ dimunculkan Militansi Sipil Y. Tugas mereka adalah menjaga rakyat agar tidak menyimpang dari ajaran agama yang dianut oleh rakyat itu sendiri. Sedangkan tempat mereka adalah tempat yang sekarang diduduki oleh polisi. Dalam tulisan saya yang lain sudah ada saya sebutkan. Sekarang, tempat polisi masih kosong atau tepatnya nyaris tanpa ada pengawasan.

Pada hakekatnya, militansi sipil adalah Tentara Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, menafikan keberadaan mereka, jelas merupakan pengingkaran sejarah. Dalam kondisi normal, mengenali mereka tidaklah sulit. Sebab, seragam –hati– mereka adalah putih dan senjata mereka adalah pentungan, atau yang sebangsa dengan itu. Mereka dikenal sebagai orang baik-baik di lingkungannya. Mereka bukan teroris.

Pertanyaannya, kelak dari mana pemerintah mendapatkan dana untuk membiayai mereka? Dalam hal ini, silakan melihat Sistem Ekonomi Indonesia. Mudah-mudahan, Anda mengerti dengan yang saya maksud.

Mungkin sudah waktunya tentara dan Militansi Sipil bersatu kembali untuk menyelesaikan revolusi mereka yang belum juga selesai. Jika dulu, mereka mengusir Belanda “putih”, sekarang mengusir Belanda “hitam” dari bumi Ibu Pertiwi. Sedangkan untuk mempersatukan kekuatan Merah Putih kembali hanya ada satu cara yaitu dengan “Wajib (Belajar) Bela Negara”. Oleh karena itu, satu bersatulah, dan menyatulah. Jangan bercerai-berai.

Penutup
Militansi Sipil bukanlah sosok yang harus dimusuhi dan ditakuti. Mereka “bersaudara” dengan tentara. Jika dahulu, yang satu sebagai Kumbakarna, yang lain sebagai Gunawan Wibisana. Maka sekarang, jika yang satu sebagai Bima, yang lain sebagai Hanoman.

Sebagai catatan kecil, yang dimaksud dengan Belanda “hitam” adalah orang Indonesia yang berpola pikir kebelanda-belandaan. Mereka lebih Belanda daripada Belanda sendiri. Wallahulam.


Maaf, lagi-lagi saya mengigau. Maklum …

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , , , , , . Tandai permalink.