125. Gayus, Sebuah Profesi Kedua, Sebuah Jenis Pekerjaan Baru

125. Gayus, Sebuah Profesi Kedua, Sebuah Jenis Pekerjaan Baru

Maraknya pemberitaan di media elektronik beberapa waktu yang lalu membuat nama Gayus terkenal. Bukan hanya para pemimpin negeri, para pendamba anti korupsi, para karyawan /pegawai, bahkan anak-anak yang masih dalam taraf belajar pun sudah mengenalnya.
Apa yang mereka lihat di layar kaca ditariknya kedunia nyata mereka, dunia keseharian yang mereka geluti. Lalu, muncul pertanyaan sederhana, adakah gayus disekitarnya? Memang, yang sekaliber Gayus tidak ada –atau tepatnya, belum pernah ditemui. Namun, gayus lain, gayus yang kecil-kecil berseliweran bebas di depan mata. Karena gayus lain, maka daerah operasinya juga lain.
Gayus lain ada di mana-mana. Seseorang pernah mengabarkan kepada saya bahwa di perusahaannya ada gayusnya. Seseorang yang lain pernah pula mengabarkan bahwa di instansinya pun tidak mau ketinggalan, ada gayusnya. Seseorang yang lan lagi pun mengabarkan hal yang serupa. Pendek kata, gayus lain ada di mana-mana.
Gayus lain tidak korupsi, tidak menakut-nakuti, malah tutur katanya halus tak terperi, seakan-akan hanya dirinya seorang diri yang paling teraniaya di muka bumi ini. Dengan begitu, bukan hanya pendengarnya yang bersimpati, uang pendengarnya pun berempati.
Cara kerja gayus lain sangatlah rapi. Jangankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), korban gayus lain pun tak akan mampu mengendusnya.

Coba ingat-ingat ketika Anda menerima gaji bulanan, menerima honorarium, mengurus hak setelah Anda menunaikan kewajiban, mengurus surat-surat yang Anda butuhkan, dan sebagainya, apakah uang yang Anda dalam keadaan utuh? Jika masih utuh, Anda beruntung. Anda tidak bertemu Gayus. Kebetulan, nasib baik sedang bersama Anda.
Gayus ada yang kasar, setengah kasar, dan ada pula yang tidak kasar. Gayus yang kasar, langsung menyebutkan nominal untuk program penggendutan dirinya. Gayus yang setengah kasar lain lagi cara kerjanya. Gayus yang ini bersembunyi di balik baju ”tuan” nya. Gayus yang tidak kasar tidak seperti itu. Gayus yang tidak kasar ”hanya” melotot ketika hanya ucapan terima kasih yang didapat … Padahal, semua gayus sudah mendapatkan gaji karena melaksanakan kewajibannya. Urusan gaji tidak mencukupi kebutuhan /keinginan hidup mereka, itu masalah lain.
Kepada bangsa yang mengaku (berperi-) Kemanusiaan yang adil dan beradab, muncul sebuah pertanyaan. Pantaskah gayus dipelihara? Anda tidak harus menjawab saat ini. Jawaban Anda ada pada action Anda di lapangan.
Jenis pekerjaan sebagai pengemis yang sudah dipandang rendah oleh sementara orang, ternyata di negara ini masih ada yang jauh lebih rendah, yaitu gayus. Oleh karena itu, ke depan, jangan lagi menggunakan istilah pengemis berdasi, itu pelecehan profesi. ”Ikatan Pengemis Seluruh Indonesia” pun sangat tersinggung, merasa profesinya tersaingi. Seumur hidup, pengemis tidak pernah berdasi, bermimpi pun ”tidak” pernah. Pengemis adalah pengemis, gayus adalah gayus. Medan ”juang” mereka berbeda …
Hidup gayus! Hidup gayus! Sekali lagi, hidup gayus!
Apakah tanpa gayus, ritme kehidupan akan terhenti?
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Rupa-Rupa dan tag , , , , , , . Tandai permalink.