126. Menyongsong Kebangkitan Agama Indonesia

126. Menyongsong Kebangkitan Agama Indonesia

Sebagai makhluk, Manusia Indonesia beragama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dalam hal ini, sebut saja agama X, agama Y, agama Z, dan sebagainya. Tentang yang sebagian dikategorikan sebagai agama pagan dan sebagian yang lain dikategorikan agama samawi, itu sudah berada di luar maksud tulisan ini dibuat. Yang jelas, tulisan ini tidak bermaksud membicarakan konsep ketuhanan, ritual, dan sebagainya agama-agama yang dianut oleh para pemeluknya.

Sebagai person, negara ini (baca: Negara Kesatuan Republik Indonesia –NKRI. Perkara ada yang lebih suka menyebut Republik Indonesia saja, tanpa embel-embel Negara Kesatuan, itu hanya masalah cara melihat saja. Mereka masih terjebak sarang laba-laba.) pun memiliki agama. Agama yang dianut oleh NKRI adalah Agama Indonesia. Dengan memiliki agama, Indonesia tidak berantakan.
Agama Indonesia merupakan titik bertemunya “semua” agama yang dianut oleh Manusia Indonesia. Dalam hal ini, Anda jangan menganggap Agama Indonesia merupakan sebuah sinkrit. Sebab, dalam Agama Indonesia, semua agama yang bertuhan kepada TUHAN YANG MAHA ESA mendapatkan pengakuan. Di mata INDONESIA, andaikan bunga, agama yang ber- TUHAN YANG MAHA ESA adalah bunga mawar. Baunya harum, bermadu, namun juga berduri. Di samping itu, bunga mawar tidak hanya berwarna merah. Ada mawar putih, mawar kuning, dan mawar-mawar yang lain, meski jumlah mereka sedikit.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan Agama Indonesia adalah agama yang ber- TUHAN YANG MAHA ESA, apapun namanya. Sampai di titik ini, saya mengajak Anda keluar dari cara berpikir di dalam kotak. Sungguhpun demikian, Anda tidak perlu meninggalkan kotak dan berada di luar kotak, cukuplah berpikir pada kotak. Hanya dengan cara itu, akan terlihat betapa luasnya langit …
Oleh sebab itu, berhentilah mempertentangkan kebenaran agama, apalagi mempertentangkan keyakinan. Di samping tidak mendapatkan apa-apa, justru kehancuran peri kehidupan yang tercipta. Sebab, urusan benar-salahnya keyakinan agama adalah urusan YANG MAHA BENAR dan itu ada di tangan YANG MAHA KUASA, bukan di tangan manusia. Kadang kala saya berpikir –oleh sebagian orang– agama hanya dijadikan kendaraan untuk menggapai kekuasaan (maaf).
Lagi pula, bukantah lebih baik beragama daripada menjadi atheis terselubung? Paling tidak, dengan beragama, ada filter untuk membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik, antara yang harus dikerjakan dengan yang tidak harus dikerjakan, antara antara yang boleh dilakukan dengan yang tidak oleh dilakukan, dan sebagainya.
Dalam masa gelap, agama menjadi tempat bersembunyi yang paling aman bagi para pemalas, pembohong, pengecut, dan pecundang. Hanya ketika terjepit, ingat akan agamanya. Apa gunanya berwajah Abiasa namun berhati Durna, apa gunanya berwajah Rama namun berhati Rahwana, apa gunanya berwajah Damar Wulan namun berhati Layang Seta, apa gunanya berwajah pahlawan namun berhati pengkhianat bangsanya …
Sebagai sebuah agama, muncul pertanyaan berikutnya, siapa nabinya? Apa kitab sucinya? Bagaimana peribadatannya? Berderet-deret pertanyaan yang bisa Anda susun. Yang jelas, agama Indonesia bukan agama baru, bukan pula agama lama. Dalam hal ini, kedudukan Indonesia adalah sebagai titik terakhir bertemunya semua agama yang diyakini kebenarannya oleh Manusia Indonesia khususnya, dan oleh umat manusia pada umumnya, apapun agama yang mereka anut.
Titik singgung tersebut adalah pengakuan bahwa dirinya benar-benar beragama. Oleh sebab itu, sebagai manusia maka Adam AS menjadi titik pertemuan pertama. Sedangkan sebagai Manusia Indonesia maka Kudungga raja pertama dari Kutai -lah yang menjadi titik pertemuan pertama berikutnya –Ingat sejarah. Padahal, Kudungga ”bukan” nabi.
Sejalan dengan hal itu, akhirnya dapat diketahui bahwa yang menjadi nabi dalam Agama Indonesia adalah orang yang berkedudukan sebagai pembawa agama yang datang dari TUHAN YANG MAHA ESA /Tuhan -nya agama. Maka dari itu akan muncul nama-nama besar seperti Muhammad SAW, Yesus Isa Al Masih, Sidharta Gautama, Konfusius, dan entah siapa lagi (maaf) –jika saya salah dalam mengurutkan, mohon maaf. Sedangkan agama yang mereka bawa dikenal dengan nama Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Khong Hu Cu, dan entah apa lagi.
Mengingat Agama Indonesia bukan agama baru, bukan pula agama lama, bukan agama langit, bukan pula agama bumi maka yang menjadi kitab suci adalah semua kitab suci. Maka dari situlah dapat diharapkan akan kebangkitan agama-agama di bumi Pertiwi. Agama langit akan bangkit di bumi, dan agama bumi akan bangkit di langit.
Kebangkitan Agama berarti kembali kepada SANG MAHA PENCIPTA tanpa harus mati terlebih dahulu. Sadar diri bahwa manusia hanyalah hamba -NYA. Sadar diri bahwa aturan hidup harus sejalan dengan kehendak -NYA. Oleh sebab itu, sebagai hamba sudah seharusnya mengerti apa yang dimau oleh tuannya. Sedangkan yang dimau oleh TUHAN YANG MAHA ESA sudah tertera dalam kitab-kitab suci -NYA. Dari situlah diharapkan bangunnya para imam (baca: pemimpin umat beragama secara umum) dari sepoi sejuk angin dunia … berebut tahta, misalnya.
Kebangkitan agama akan terjadi jika dan hanya jika imam yang sudah kentut bersuci lagi. Diharapkan setelah bersuci, mereka meramaikan kembali tempat-tempat ibadah yang seharusnya ramai dengan kegiatan agama. Tidak selayaknya para imam ikut berhanyut ria dalam kegiatan keagamaan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masih dalam taraf belajar /pemula. Tempat imam ada di depan untuk memberi teladan.
Oleh sebab itu, Imam agama X sudah waktunya memberi teladan, bagaimana seharusnya menjadi penganut agama X yang baik dan benar sesuai dengan maunya Tuhan agama X. Maka, jika mengaku beragama X, jadilah penganut agama X yang baik. Begitu pula dengan penganut agama Y, penganut agama Z, dan sebagainya. Dari situlah dapat diharapkan munculnya sebuah ketaatan rakyat kepada pemerintah (baca : pemberi perintah).
Tanpa ada ketaatan, pemerintah akan kesulitan dalam menjalankan agenda pembangunan bangsa, negara, dan tanah air. Lagi pula, jika tidak mau taat kepada pemerintah sendiri lantas mau taat kepada pemerintah mana?
Pada level satu, yang dimaksud dengan pemerintah adalah Kepala Negara. Pemerintah harus ditaati rakyat selama perintahnya tidak melanggar perintah TUHAN YANG MAHA ESA. Artinya, Kepala Negara tidak boleh melanggar kitab suci agama. Jika sampai melangggar, maka hukum agama yang dianut oleh Kepala Negara yang akan menyelesaikan kasus tersebut. Kepada Kepala Negara saja hukum agama ditegakkan, apalagi kepada rakyat jelata. Oleh sebab itu, siapkan lahir batin untuk menyongsong kebangkiatan agama di bumi Pertiwi.
Maaf, saya lagi mengigau. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke 126. Menyongsong Kebangkitan Agama Indonesia

  1. Agama yang mengatur manusia bukan manusia yang mengatur agama, Okelah kalau yang di maksud mengatur kekuasaan manusia yang beragama, berarti manusia yang beragama di atur oleh manusia yang beragama, karena manusia yang beragama tidak sama tingkat pemahaman, pengamalannya, serta penghayatan terhadap agama yang di anutnya

  2. – Agama yang disisi Allah Adalah agama islam
    – Sama – sama agama tetapi agama tidak sama

    • sugiarno berkata:

      Hmm, makanya supaya tidak ribut terus, daerah kekuasaan agama HARUS jelas🙂

      • Yang ribut bukan Agamanya, agama tidak ribut, yang ribut Manusianya, untuk memperoleh Kekuasaan, dengan berdalih demi Negara dan Bangsa serta agama, Mereka mengatasnamakan Negara dan Bangsa tetapi sebenarnya untuk dirinya sendiri, Agama bukan kekuasaan tetapi aturan dari Allah SWT sebagai penguasa mutlak di jagat raya ini juga di ahirat, karena dia bersifat Qudrat ( Maha Kuasa )

        • sugiarno berkata:

          Hehehe … ya iya lah, mengatur daerah kekuasaan agama = mengatur daerah kekuasaan manusia yang beragama. Memangnya, tanpa manusia, agama bisa berdiri sendiri? Hmm, HARUS berani keluar dari kotak dengan begitu bisa bermain cantik …🙂

  3. Indrawati ajach. berkata:

    Nkri / Agama seantero dunia .
    Diatas langit masih ada langit .
    Semua agama yg ada di muka bumi ini semuax benar .
    Karena tujuan semua agama untuk kemaslahatan umat .
    Agama menjadi pedoman hidup bagi umatx dg segala nuansax .
    Orang yg pengecut dan pecundang dan orang yg hatix seperti durna ,rahwana ,layang seta banyak sekali di dunia ini .
    Justru kebrobokan mereka tatanan jadi rusak , di saat itulah Tuhan mengutus nabi nabi sesuai pada zamannya entah itu agama langit /bumi .
    Secara sar i sang maha pencipta yg mengatur alam dan segala isix .
    Selaku warga negara yg baik harus taat pada pemerintah dan agamax .
    Mari kita saling berinteraksi baik secara vertikal dan horisontal demi kemaslahatan umat .
    Yuk kita explementasikan dalam kehidupan sehari hari .
    Wollohu aklam .

Komentar ditutup.