127. Pegemis bukan Pengemis

127. Pegemis bukan Pengemis

Anda sudah mengenal si Pegemis? Jika belum maka dengan terpaksa saya yang akan memeperkenalkan dia kepada Anda. Jujur saja, saya agak heran jika sampai detik ini Anda belum mengenalnya.
Padahal, tidak jarang Pegemis hadir di hadapan Anda dengan pakaian perlente. Rambutnya disisir rapi, bersepatu mengkilap, kadang kala berdasi, berjas, dan naik mobil mewah keluaran terbaru.

Dari situ terlihat bahwa Pegemis bukanlah orang sembarangan. Secara meteri, peri kehidupan Pegemis sudah mapan. Bagi awam, Pegemis memiliki status sosial yang lumayan tinggi. Harap maklum, awam menilai yang terlihat. Sedangkan yang paling mudah dilihat adalah pangkat, jabatan, dan materi yang berhasil dikumpulkan. Urusan bagaimana cara memperolehnya, sebagian awam tidak peduli.
Sungguhpun demikian, ada satu hal yang patut Anda catat. Kedatangan Pegemis tidak selalu disukai. Sebab, kedatangannya berarti harus ada yang dipersembahkan. Ketika penyembah dan yang disembah sama-sama suka, tidaklah menjadi masalah. Namun, ketika penyembah merasa tertekan karena adanya ”kesepakatan sepihak” persembahan maka di situlah cerita Pegemis dimulai.
Pegemis bukan arus bawah yang naik ke atas. Justru sebaliknya, Pegemis adalah arus atas yang turun ke bawah. Dengan kata lain, Pegemis adalah pemain papan atas, sedangkan Pengemis adalah pemain bawah. Dengan kata lain, Pegemis adalah saudara kembar Pengemis. Dengan kata lain, yang biasa disebut sebagai pengemis berdasi adalah Pegemis.
Secara kasat mata, tampilan Pegemis bertolak belakang dengan Pengemis. Namun, jiwa yang merasukinya sama yaitu bermental peminta-minta. Pada giliranya, mereka menjual kemiskinannya untuk meningkatkan taraf hidupnya, menjual kemiskinan bawahannya untuk meningkatkan taraf hidupnya, menjual kemsikinan rakyatnya untuk meningkatkan taraf hidupnya, dan seterusnya, dan sebagainya.
Manusia Indonesia adalah bangsa manusia yang bermartabat karena beradab. Padahal, tingginya pangkat, jabatan, atau materi tidak berbanding lurus dengan ketinggian martabat. Oleh sebab itu, Pegemis bukan termasuk Manusia Indonesia. Meskipun mengaku sebagai Bangsa Indonesia dengan pangkat yang tinggi, dengan jabatan yang berderet-deret, dengan kekayaan yang setinggi langit ternyata mereka bukan Manusia Indonesia. Lantas manusia macam apa? Bisa jadi, mereka adalah kaum Darwinis.
Sungguhpun demikian, sedari dulu Manusia Indonesia sebagai penganut Adamis sudah bertenggang rasa terhadap Pegemis. Sebab, itu termasuk satu syarat untuk bisa bertahan hidup di muka bumi yang bernama indonesia, bukan Indonesia, apalagi INDONESIA.
Oleh sebab itu, bersyukurlah jika seumur hidup Anda belum pernah bertemu dengan Pegemis. Sebab, bertemu dengannya sangat menyakitkan.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Rupa-Rupa dan tag , , , . Tandai permalink.