129. “Tidak” Ada Pejabat Mesum

129. “Tidak” Ada Pejabat Mesum

Jangan salah, mesum dalam tulisan ini tidak mengambil arti cabul. Dalam tulisan ini, mesum merupakan padanan kata kotor. Oleh karena kotor maka berarti tidak bersih.
Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin seorang pejabat bisa kotor. Bukantah sejak diangkat sebagai pejabat, mereka sudah disumpah di bawah kitab suci?

Mesumnya pejabat bisa dikategorikan menjadi dua macam, yaitu dengan melakukan onani jabatan dan melacurkan jabatan, Lagi-lagi jangan salah. Sekalipun di situ muncul kata onani dan melacur, namun yang dimaksud tidak ada hubungan sama sekali dengan dunia remang-remang.

Onani jabatan adalah sebuah kegiatan untuk memuaskan diri sendiri dengan menggunakan fasilitas jabatan yang disandangnya. Sudah barang pasti dalam kegiatan ini, yang mendapatkan keuntungan hanyalah diri pribadi pejabat yang bersangkutan. Sedangkan lembaga tempatnya bekerja, tidak mendapatkan apa-apa.

Contoh, kepala lembaga x pada jam dinas bersibuk ria di lembaga y. Memang, dalih ketiadaan sumber daya manusia pada lembaga y bisa dijadikan faktor pembenar. Namun, cara semacam itu sudah barang tentu salah. Ingat, pendapatannya diperoleh dari lembaga x, sedangkan tenaga dan pikirannya tercurah pada lembaga y. Daripada seperti itu, akan lebih ksatria jika pindah saja sekalian ke lembaga y. Dengan begitu, generasi muda mendapatkan tempat untuk berbakti pada negara.

Di samping itu, dengan adanya onani jabatan, muncul pertanyaan besar. Katanya, masyarakat harus diberdayakan. Namun setelah mereka berdaya sungguhan, justru pejabatnya sendiri yang tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh, apalagi berkembang. Jika pada akhirnya pejabatnya sendiri yang memandulkan, lantas untuk apa diadakan berbagai macam penataran, pelatihan, atau apapun itu namanya? Padahal, semua kegiatan tersebut banyak menghabiskan dana, tenaga, dan pikiran.

Pelacur jabatan jelas berbeda dengan pelacur jalanan (maaf). Perbedaannya terletak pada apa yang dilacurkan. Pelacur jabatan melacurkan jabatannya untuk mendapatkan uang, sedangkan pelacur jalanan melacurkan dirinya sendiri untuk mendapatkan uang.

Contoh, teorinya, setelah bawahan melaksanakan kewajiban, hak mereka diberikan. Dalam praktik, tidak serta-merta seperti itu. Pejabat yang mesum masih mengajak main mata. Siapa yang mau diajak main mata ”uang” akan lancar urusan hak -nya. Sedangkan tidak mau, jangan pernah bermimpi untuk lancar hak -nya. Pejabat mesum tidak pernah melihat prestasi kerja bawahannya, yang dilihat adalah uang bawahannya. Oleh sebab itu, pelacur jalanan jauh lebih terhormat daripada mereka.

Saya percaya, Pejabat Mesum hanya ada dalam pikiran saya. Di luar sana, ”Tidak” Ada Pejabat Mesum. Semua pejabat orang baik, orang jujur, dan menjunjung adat ketimuran karena mereka Pancasilais dan beragama.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , , , , . Tandai permalink.