130. INDONESIA MASIH KOSONG –ralat– INDONESIA MASIH indonesia

130. INDONESIA MASIH KOSONG –ralat– INDONESIA MASIH indonesia

1. –> 2. ( ) –> 3. (indonesia) –> 4. indonesia –> 5. Indonesia –> 6. INDONESIA –> 7. INDONESIA RAYA

Semuanya berformat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Butir 1
NKRI masih belum ada di awang-awang. NKRI belum muncul dalam angan-angan. Namun, manusia pertama di muka bumi sudah ada. Sebagai bangsa manusia yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa maka Adam AS adalah leluhur bagi Bangsa Manusia Indonesia.

Butir 2
( ), NKRI dalam masa pra sejarah. Sekalipun bekas-bekas kebesaran masa itu masih tersisa, karena para sejarahwan sudah menyepakati Kerajaan Kutai sebagai negara pertama maka biarlah kebesaran itu terkubur bersama cerita rakyat yang mengiringinya. Jika saya tidak salah, kisah Ajisaka, Rara Jonggrang, Angling Darma, Malin Kundang, dan yang lain-lain adalah kenangan indah bagi Bangsa Manusia Indonesia dari masa itu.

Butir 3
(indonesia) adalah NKRI pada Masa Sejarah tanah air dimulai. Kisah ini diawali dari Kerajaan Kutai dengan Kudungga sebagai raja pertama di nusantara. Lembaran pertama sejarah tanah air dibuka di bumi Kalimantan. Kemudian disusul dengan kerajaan-kerajaan lain di seluruh penjuru tanah air. Kelahiran Kutai menandakan bahwa bangsa manusia indonesia sudah dimanusiakan sehingga sudah menjadi Bangsa Manusia Indonesia. Kala itu, publik raja -lah yang paling dominan. Sementara publik yang lain masih terkurung dalam cangkangnya.

Menurut sejarahwan, Kutai berdiri antara abad 4 sampai 5 Masehi. Karena angka yang ditampilkan tidak pasti, maka saya pastikan agar menjadi pasti, yaitu abad 4 Masehi. Dengan begitu, Indonesia untung dan dunia pun tidak rugi.

Jika dikonversikan ke dalam kalender Indonesia maka Kutai lahir pada 17 Indonesia 1 INDONESIA (baca: tanggal 17 bulan Indonesia tahun 1 INDONESIA) = 17 Ramadhan 228 Sebelum Hijriah –dalam tulisan lain ada saya sebut 17 Ramadhan 1 I.
Kebesaran raja dengan NKRI (indonesia) -nya berakhir pada 9 Indonesia 1592 INDONESIA/ 17 Agustus 1945 Masehi /9 Ramadhan 1364 Hijriah.

Butir 4
indonesia adalah NKRI kita saat ini. Semua yang terbelenggu cangkang telah lahir. Efforia merdeka masih terasa meskipun sudah lebih dari 64 tahun “merdeka”. Padahal sesungguhnya, merdeka dari siapa? Siapa yang menjajah siapa? Pola pikir sebagai bangsa yang terjajah harus dihilangkan. Katanya, “Jangan lupakan sejarah”. Jika benar seperti itu adanya, maka seharusnya raja -lah yang menjadi kepala negara, bukan presiden.

Ataukah mungkin, “Jangan” lupakan sejarah. Jika demikian adanya maka, jangan mengeluh jika kondisi tanah air ribut melulu. Jangan mengeluh jika untuk menyelesaikan segala urusan harus memakai uang. Jangan mengeluh jika jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin kian dalam. Jangan mengeluh jika masuk sekolah bayar, ujian bayar, keluar ijazah bayar. Jangan mengeluh jika cari kerja masih harus bayar, sudah kerja mau naik pangkat pun masih harus bayar, padahal para atasan sudah dibayar berlebih oleh pemerintah. Jangan mengeluh jika habis manis sepah dibuang. Jangan mengeluh, jangan mengeluh, dan jangan mengeluh. Pendek kata, jangan mengeluh.

Padahal, siapa yang tidak memiliki masa lalu sama artinya dengan tidak memiliki masa depan. Begitu pula halnya dengan bangsa, bangsa yang tidak memiliki identitas karena melupakan masa lalunya maka juga tidak memiliki masa depan dan keberadaannya bak buih di lautan.

Ketika kesadaran nasional telah pulih bahwa mereka bukanlah bangsa yang pernah dijajah oleh bangsa lain, justru yang menjadi penjajah adalah bangsanya sendiri, atau malah mungkin dirinya sendiri maka dengan sendirinya, maka dengan serentak, pandangan mata mereka akan menuju satu titik awal tempat pembengkokan pola pikir, yaitu sekolah dasar. Ternyata, ilmu dasar yang diajarkan di sana hanya sejenis makanan instan, hasil jiplakan, bukan warisan nenek moyang Bangsa Manusia Indonesia sendiri.

Jika guru -nya saja sudah menjadi tukang jiplak hasil pekerjaan guru lain, jangan salahkan murid jika mencontek hasil pekerjaan murid lain. Pada titik ini, guru harus berani mawas diri (maaf) –selebihnya lihat Krisis Indonesia.

Masa ini berakhir dengan dikeluarkannya Dekrit Wajib (Belajar) Bela Negara oleh Kepala Negara. Kapan? Semua harus menunggu sadarnya Kepala Negara dari sihir global (maaf). Sekalipun seisi negara ini sadar bahwa ada yang salah dalam tata kelola negara ini, namun jika Kepala Negara -nya sendiri tidak juga sadar maka hasilnya akan kringgo.

Butir 5
Butir ini adalah Indonesia dalam masa transisi. Yang dimaksud dengan masa transisi adalah masa dilaksanakannya Wajib Belajar Bela Negara. Masa tersebut belumlah tiba. Sebab, harus dimulai oleh datangnya perintah dari kepala negara serta beliau sendiri yang harus turun tangan untuk memberi contoh. Dengan kata lain, kepala negara harus menjadi guru bagi bangsanya, meskipun hanya sehari.

Pertanyaannya, mengapa harus menjadi guru bagi bangsanya? Sebab, ternyata, yang selama ini berdiri di depan kelas untuk mengajar anak-anak bangsa Indonesia adalah pion-pion asing. Saya sering menyebut mereka sebagai cantrik, tidak lebih dari itu. Hal ini bisa dilihat dari ilmu dasar yang mereka ajarkan. Maka menjadi wajar jika pada akhirnya kepentingan asing lebih dominan jika dibandingkan dengan kepentingan rakyat /bangsa /tanah air sendiri.

Itu jika beliau mampu melaksanakannya, jika tidak mampu maka harus ada orang lain yang sanggup membantunya. Lalu, siapa? Jangan khawatir, di perguruan-perguruan tinggi bertaburkan bintang-bintang yang akan sanggup membantu beliau.
Masa transisi membutuhkan waktu 9 tahun, start dan finis harus jelas. Masa transisi juga bisa dipandang sebagai masa untuk membelokkan biduk yang bernama Indonesia untuk berbelok 90 derajat. Dalam kurun waktu yang panjang itu, tidak ada hajat nasional. Pada masa itu, ”kalimasada yang dipegang Petruk dikembalikan kepada yang berhak”, ”Kencana Wungu menerima Damar Wulan”, ”Panji Asmara Bangun berhasil membuka topeng Sekartaji”, dan seterusnya. Kuncinya, salah seleh. Sudah bukan masanya mengaku benar sendiri. Sudah bukan pula masanya mengaku baik sendiri. Semua ikut terlibat dalam kesalahan (kalau boleh disebut salah) nasional, yang besar salah besar, yang kecil juga salah kecil… sebab, gurunya salah dalam mengajarkan Indonesia (maaf) kepada anak-anak bangsa manusia Indonesia.

Hanya saja, menurut Tarian Raja Garuda, pada masa itu akan terjadi banjir uang, dan itu adalah uang yang baik dan bersih, bukan uang hasil tipu-tipu. Pada masa itulah akan terjadi revolusi pembangunan. Hutan yang gundul akan serentak dihijaukan. Rakyat yang tercecer sebagai akibat pembangunan yang liar akan dimanusiakan kembali sebagai layaknya menusia yang bermartabat.

Sebagai catatan, Masa transisi ditandai dengan Dekrit Wajib ”Belajar” Bela Negara oleh presiden selaku kepala negara. Dalam kurun waktu sembilan tahun itulah –”raksasa Kresna dikembalikan ke wujudnya semula” — jati diri bangsa ditemukan, Insya Allah. Kuncinya, bongkar sekolah dasar! Dan, yang bisa melakukan hal itu hanya satu orang di republik ini yaitu ”super body” guru yaitu presiden. Masa ini diakhiri dengan amnesti massal.

Butir 6
INDONESIA ini sudah berbeda dengan Indonesia, apalagi dengan indonesia. INDONESIA masih berada di seberang Jalan Indonesia, indonesia. Ingat, untuk mencapainya butuh waktu sembilan tahun. (Maaf) Saya tidak sedang bermain kata-kata dengan Anda. INDONESIA ini adalah INDONESIA yang sesungguhnya, NKRI yang sebenarnya. Semua kembali ke habitatnya. Matahari, bintang, dan rembulan kembali ke orbit masing-masing. Mereka tidak boleh lagi byayakan di muka bumi. Gara-gara mereka turun ke bumi, jagat INDONESIA menjadi gelap. Gara-gara mereka turun ke bumi, elang dan pungguk berantem terus … dan efek domino yang terjadi, dan semua itu sudah lama berseliweran di depan mata.

Cerita baru tentang tanah air dimulai dari dunia pendidikan. Oleh karena itu, “racun” sebagai bangsa yang pernah dijajah tidak diajarkan kepada anak-anak yang masih polos. Keluhuran budaya warisan nenek moyang dikembalikan pada tempat yang semestinya serta diajarkan kepada generasi penerus di sekolah.

Butir 7
INDONESIA RAYA adalah format NKRI yang muncul ketika sepuluh buah negara lain mengibarkan Merah Putih tanpa harus mengadakan intervensi. Kalaupun terjadi, itu bukanlah intervensi, namun sebuah pembebasan Manusia Indonesia. Ingat, sepuluh bukan angka mati.
Setelah INDONESIA RAYA tercapai, lalu apa? Sederhana, pengabdian total Bangsa Manusia Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memang, ada sebagain orang yang bisa mencapai taraf itu secara perseorangan. Namun, kalau hanya bisa baik seorang diri, untuk apa? Apa artinya genting bagus jika bangunan penyangganya keropos? (Maaf, saya telah membuat Anda berpikir ulang. Sekali lagi, maaf) Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , , , , , . Tandai permalink.