131. Ibukota Boyong, Ke mana?

131. Ibukota Boyong, Ke mana?

NAD (Nangroe Aceh Darussalam) mempunyai Banda Aceh sebagai ibu kota. DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) mempunyai Yogyakarta sebagai ibu kota. Sekarang, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) atau bagi yang masih terjebak pada sarang laba-laba lebih suka menyebur RI (Republik Indonesia) mempunyai apa?

Sekedar mengingatkan, NAD yang berkelas provinsi saja mempunyai Banda Aceh, DIY yang juga berkelas provinsi saja mempunyai Yogyakarta, lantas NKRI /RI yang berkelas negara mempunyai apa? Seharusnya, NKRI mempunyai INDONESIA sebagai ibukotanya.
Dalam hal ini, bangsa Indonesia tidak boleh melupakan perjalanan sejarah bangsanya. Silakan teliti kota-kota yang mempunyai kaitan langsung dengan Indonesia, sisihkan kota-kota yang hadir sebagai penggembira (maaf). Pada titik ini, hanya tinggal beberapa nama tempat yang tersisa, yaitu : Kutai Tarumanegara, Yogyakarta, Jakarta, dan Blitar.
Kutai merupakan tonggak dimulainya sejarah tanah air. Yogyakarta dikenal sebagai ibukota Negara ketika masa revolusi, Jakarta sebagai New Batavia (maaf), dan Blitar sebagai kota Presiden pertama republik ini.
Di samping itu, masih ada kota-kota lain yang juga menyimpan nilai kesejarahannya. Sebut saja, misalnya: Surabaya, Bandung, Medan, Denpasar, Makassar, Mojokerto, Palembang, dan lain sebagainya –yang kesemuanya telah berkembang sesuai dengan dinamika masing-masing.
Katanya, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya”. Nah, sekarang tiba masanya untuk membuktikan … Ibu kota mau pindah ke mana? Ke Jonggol? Jika belum-belum jonggol -nya yang dimajukan jelas tidak fair, ketika Jonggol -nya mati lantas siapa yang akan membelanya?. Kata orang Madura, bengal ke tondhinga, tako’ ka tajemma. Kata orang Jawa, wani silit wedi rai (maaf). Jonggol adalah jonggol. Tempat jonggol ada di belakang sebagai penyuport kekuatan.
Sekadar mengingatkan, kedudukan Kutai Taruma Negara adalah sebagai tonggak awal republik ini. Jika ibu kota pindah ke sana, ada benarnya. Namun perlu diingat, ketika INDONESIA diletakkan di Kutai, lantas Kutai -nya akan digeser ke mana? Padahal, bangsa Manusia Indonesia adalah bangsa yang bermartabat. Mereka tidak akan mengusir ”orang” dari tampat duduknya.
Jika negara ini beribukota di Yogyakarta, ada benarnya juga. Apalagi, katanya, Ke Yogya kita kembali. Namun, perlu diingat bahwa ke yogya kita kembali berarti kepada para priyayi kita kembali. Artinya, kembali ke raja sebagai simbul pemersatu. Padahal, era raja telah berlalu dengan bergabungnya kesultanan Yogyakarta ke republik ini pasca Proklamasi, 17 Agustus 1945. Ini berararti, ada raja lain selain raja. Artinya, ada satu lain selain satu yang sudah dikenal dan terkenal. Padahal, priyayi republik ini bukan di Yogyakarta. Dengan demikian, Yogyakarta, gugur.
Ibu kota pindah ke Blitar? Memang, Blitar adalah sebuah kota nan cantik. Namun, bahaya. Di sana ada gunung Kelud yang sewaktu-waktu akan memuntahkan lahar panasnya. Atau tetap di Jakarta? Hmm, mengurus dirinya sendiri saja, Jakarta kedodoran.
Kembali ke Jonggol. Kedudukan Jonggol ”hanya” sebagai kota perjuangan ke dua setelah Yogyakarta, saat bangsa ini menyelesaikan Revolusi yang Belum Selesai. Dengan kata lain, Jonggol ”hanya” sebagai ibukota transit, dari New Batavia ke INDONESIA. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 131. Ibukota Boyong, Ke mana?

  1. masbadar berkata:

    Konon para ahli sudah menghitung cost-nya dan mematok minimal 100 trilyun duit jika memang menghendaki ibukota pemerintahanan dipindahkan. Ibu kota pemerintahan lho ya, pindah ibukota kan tidak harus memindahkan kota jakarta metropolitannya, tidak harus membangun gedung skyscrapper lagi. Mungkin biarkan Jakarta lama dijadikan semacam newyork atau kalifornianya Endonesia, lalu satu kota baru lagi (mungkin bisa di palangkaraya) dijadikan washington DCnya negara ini.

    Btw, 100 trilyun itu nolnya berapa ya, kalo buat beli krupuk kira2 seberapa banyak ya..😀

    • sugiarno berkata:

      Iya, benar. Yang pindah hanya ibu kotanya. Oleh karena itu, jangan memindahkan ibu kota ke kota yang sudah ada, itu intervensi kota. Ibu kota “numpang” ke kota = Benalu. Jika niat pindah, cari tempat kosong, buat kota baru, buat sendiri, jangan mengganggu kota yang sudah ada. Mas Masbadar ini ada-ada saja, di indonesia 1 triliun = 1 dengan dua belas nol di belakangnya. Di Indonesia 1 triliun = 1 dengan enam belas nol di belakangnya. Di INDONESIA 1 triliun = 1 dengan sembilan puluh enam nol di belakangnya. Jika dibelikan kerupuk, maka dapat berpabrik-pabrik dan yang jual sudah termasuk🙂

  2. masbadar berkata:

    Jakarta memang dah sumpek dengan seabrek masalah, mulai dari kemacetan yang paling mendominasi, urbanisasi dan lain sebagaiannya. Volume kendaraan yg bertambah tidak diimbangi dengan pembangunan infrastrutur jalan yg memadai, ditambah tata kota yg di acak2 oleh beberapa pengembang properti kelas kakap, lalu apalagi..?

    Tidak mudah untuk memindahkan ibukota, banyak syarat dan kondisi, lalu banyak kepentingan2 tertentu yg bakal tidak ingin lahan cari nasinya terusik gara2 pindah wilayah. Namun jika itu solusi satu2nya, mo apalagi..? Nunggu jakarta macet total yang tinggal menghitung waktu saja?

    Jika Jakarta macet total, bukannya seluruh indonesia juga bakal kebagian macet urusannya..?

Komentar ditutup.