132. Perjanjian Lama Indonesia

132. Perjanjian Lama Indonesia

Yang dimaksud dengan Perjanjian Lama Indonesia adalah perjanjian luhur yang diselenggarakan oleh para pendahulu bangsa Indonesia. Kala itu, forum tempat mereka berjanji disebut Badan Benyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Kemudian dipertegas lagi dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), lengkap dengan Panitia Sembilan -nya. Perkara hasil kerja mereka bisa berubah dalam tempo sekian jam menjelang ditetapkan, itu masalah lain. Semua telah terjadi. Orang bijak mengatakan, ”Jangan menangisi susu yang telah tumpah”.

Saya tidak bermaksud mengutak-atik hasil kerja mereka. Hasil kerja mereka sudah kita rasakan. (Fisik) Indonesia telah merdeka –entah fisik siapa. (Badan) Indonesia sudah besar –entah badan siapa. (Madani) Indonesia sudah maju –entah yang maju yang mana.
Menjelang perayaan 65 tahun hidup dalam Perjanjian Lama, simaklah berita dari berbagai media yang dapat Anda tangkap. Hari-hari hanya dipenuhi dengan berita yang monoton. Berita yang membuat nafas menjadi sesak dan tak habis pikir. Nyaris tak ada lagi berita yang bisa menyejukkan mata dan menenangkan hati.
Praktis, semua tak berdaya. Dari yang bernomor urut terakhir sampai nomor urut satu, sama. Semua terjerat sarang laba-laba. Coba Anda pikir, ada orang yang sampai tidak memiliki tempat tinggal di bumi Pertiwi yang luas, wajarkah? Menyingkirkan /menghilangkan nyawa orang lain tanpa ada kepastian salah-benarnya, wajarkah? Memperjual-belikan periuk nasi orang lain, wajarkah? Guru Honorer sampai berdemo karena pendapatan yang tidak sebanding dengan kerjanya, sementara ada guru lain yang kian gendut –karena dibuat lolos sertifikasi, wajarkah? Polisi saling dorong dengan guru, wajarkah? Tawuran siswa, wajarkah? ”Hanya” pegawai sekelas golongan III mampu melakukan korupsi sampai miliaran rupiah, wajarkah? Wakil rakyat yang sibuk dengan studi banding, wajarkah? Pejabat yang merangkap sebagai pegemis, wajarkah? Dan sebagainya, dan seterusnya. Bahkan, iring-iringan Kepala Negara pun membuat rakyat susah, wajarkah? Menurut saya, semua itu tidak wajar. Artinya, ada yang salah dalam Perjanjian Lama Indonesia.
Pendek kata, Perjanjian Lama Indonesia telah membuat Buaya Putih jelmaan Prabu Baka mampu melakukan reinkarnasi dengan membawa segala kekuatan, kebesaran, dan kesaktiannya. Sebut saja, ia bernama Prabu Baka Kumara.
Padahal, bambu runcing warisan para pendahulu telah patah. Hanya seonggok bambu tumpul yang tersisa. Ini berarti, untuk mengusir Prabu Baka Kumara ”tidak” bisa segegap -gempita menjelang Proklamasi, 17 Agustus 1945. ”Tidak” perlu ada Rengas Dengklok II. Tanpa pernah berani memperbaharui perjanjian (rekonsiliasi), PR Sejarah yang harus diselesaikan makin panjang dan derita rakyat kecil makin berkepanjangan –lihat: Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya (Bagian 1 dan 2). Menunda-nunda rekonsiliasi pun bukanlah tindakan yang tepat. Semua sudah sangat transparan –untuk tidak menyebutnya sebagai sangat telanjang. Ingat, Perjanjian Lama Indonesia hanya menyisakan bambu tumpul, tidak lebih dari itu
Wallahualam

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 132. Perjanjian Lama Indonesia

  1. hasrin berkata:

    aku jg sepakt dengan krtikannya, tapi aku rasa itu keluh kesah. semua orang mungkin tahu tapi mungkin mereka belum tahu memaknai kemerdekaan.

Komentar ditutup.