133. Perjanjian Baru Indonesia

133. Perjanjian Baru Indonesia

Diadakan Perjanjian Baru Indonesia tentu ada sebab yang mengiringi. Menurut saya, ada beberapa sebab yang sangat menonjol. Pertama, Perjanjian Lama Indonesia telah aus dimakan usia. Hal ini bisa terjadi karena mereka telah melupakan hak TUHAN YME. Oleh sebab itu, hak TUHAN YME harus dikembalikan dalam Perjanjian Baru Indonesia. Kedua, Perjanjian Lama Indonesia telah diingkari /ditabrak /diruntuhkan oleh yang seharusnya menjaganya. Ibaratnya, pagar makan tanaman. Korban tanaman yang yang mati telah tak terbilang. Dalam hal ini, silakan periksa lembar sejarah tanah air dari pasca Proklamasi, 17 Agustus 1945 sampai dengan hari ini. Korban dari semua itu, jelas bukan mereka yang pandai, bukan mereka yang kaya, bukan mereka yang berkuasa, apalagi mereka yang nomor satu. Oleh sebab itu, dalam Perjanjian Baru Indonesia, pagar-pagar harus dipasang tegak, tidak boleh condong
Ketiga, sudah 64 kali Raja Garuda mengitari simbul merdeka. Padahal, simbul merdeka sudah saya cabut dan saya letakkan pada tempat yang semestinya, yaitu pada 17 Indonesia 1 INDONESIA (baca: tanggal 17 bulan Indonesia tahun 1 INDONESIA). Artinya, ”tidak” ada upacara bendera pada 17 Agustus 2010. Oleh sebab itu, kalaupun masih dilakukan, hanya sebuah kesia-siaan yang didapat –maaf, saya tidak sedang menggurui. JIWA INDONESIA sudah bangun ...
Hari ini, bulan Agustus 2010 (suasana gembira). Hari ini pula, mayoritas rakyat Indonesia sedang menunaikan ibadah puasa di bulan Romadhon (suasana suci). Menurut saya, senyampang dalam suasana gembira dan suci inilah saat yang tepat untuk mengadakan Perjanjian Baru Indonesia.
Memang, membuat Perjanjian Baru Indonesia adalah tugas berat. Sebab, itu berarti Menyelesaikan Revolusi yang Belum Selesai. Forum tertinggi mereka yang telibat secara langsung, biasa saya sebut sebagai PPKI II.
Masalahnya, sudah siapkah untuk berubah menjadi bangsa manusia bermartabat? Jika siap, pelajari Tarian Raja Garuda. Jika tidak siap, jangan mengeluh apapun yang terjadi. Ingat, hanya ada sebulan waktu yang tersisa untuk membuktikan …

Maaf, lagi-lagi saya mengigau tentang bermartabatnya bangsa ini.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , . Tandai permalink.