134. Damai itu Indah

134. Damai itu Indah

Satu di antara tanda Bangsa Manusia Indonesia adalah menganut sebuah agama. Perkara agama apa yang dipeluk tergantung pada keyakinan hati mereka masing-masing. Dalam hal ini, tidak boleh ada paksaan dari siapapun.
Agama adalah masalah yang sangat peka. Salah bicara sedikit bisa berakibat fatal. Sudah cukup banyak pertikaian yang membawa-bawa nama agama. Padahal, katanya agama = tidak berantakan. Oleh sebab itu, agama harus ditempatkan pada posisi yang tinggi sebagai rujukan. Ingat, agama adalah penuntun hati dalam menjalani hidup agar selamat di dunia dan di kehidupan berikutnya.
Pertikaian antara si Fulan dengan si Dadap, antara kelompok A dengan kelompok B, antara bangsa X dengan Bangsa Y, misalnya, tidak selayaknya merusak simbul-simbul agama tertentu. Sudah bukan masanya bertikai dengan mengatasnamakan agama. Sudah bukan masanya merusak sendi-sendi kehidupan dengan mengatasnamakan agama. Sudah bukan pula masanya agama digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak /yang kecil-kecil.
Ingat, yang tua-tua sudah karuan, sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan. Yang muda-muda dan yang masih anak-anak belum tahu apa-apa. Selamatkan mereka, jangan dibawa pada pertikaian agama yang tidak berujung berpangkal. Eranya sudah beda, eranya era damai, dan Damai Itu Indah.
Apa masih kurang pengalaman sejarah tentang runtuhnya bangsa-bangsa /negara karena bertikai soal agama? Oleh sebab itu, daerah kekuasaan agama harus diatur. Silakan tata ulang penataan teritorial tanah air …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 134. Damai itu Indah

  1. Monroe Shearier berkata:

    There is obvisously a lot to know about this. I think you made some good points in Features too. Great Job.

Komentar ditutup.