5. Cara Keluar dari Krisis Indonesia

5. Cara Keluar dari Krisis Indonesia

Hanya ada dua macam pilihan untuk keluar dari Krisis Indonesia. Pertama, dengan cara yang BENAR. Cara benar adalah cara yang tidak bertentangan dengan perintah TUHAN YANG MAHA ESA. Maksudnya, setiap kebenaran harus berdasarkan pada kebenaran sebelumnya. Kedua adalah cara Tarian Raja Garuda.
Sekadar mengingatkan, jika sampai Lebaran tahun ini BELUM BISA memutus mata rantai korupsi, kembalilah ke bangku sekolah dasar. Jangan lupa pakai baju putih, celana tiga perempat warna merah hati, pakai topi, dasi, dan sangu mimik untuk … Mandi Bersama Bidadara

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Bernomor dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 5. Cara Keluar dari Krisis Indonesia

  1. sugiarno berkata:

    Mudik = 0, Balik = 0, mudiknya anak ke orangtua, mudiknya murid ke guru … 65 tahun murid-murid guru sekolah dasar pergi dan tak pernah kembali, mereka telah melupakan guru yang merindukan mereka . Mereka tak pernah tahu, air mata gurunya nyaris kering karena telah tumpah setiap hari … Pulanglah, bekalmu telah habis, bambu runcingmu telah patah. Lupakan merah -mu telah luntur. Lupakan putih -mu pun telah pudar. Ketahuilah, dalam menyelesaikan revolusi yang belum selesai bukan dengan senapan yang digunakan, tapi dengan pola pikir. Era berdarah-darah telah usai … Ingat, dulu, kalian semua anak-anak yang baik, anak-anak yang polos, mengapa sekarang semua jadi beringas, jadi tukang tipu, dan jadi jahat satu sama lain, seakan-akan tak pernah dididik guru kalian. Guru-gurumu malu, sebab semua kesalahan ditimpakan padanya. Senyampang semua kembali ke titik 0 (nol), sadarlah … bangunlah … kasihan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa

  2. sugiarno berkata:

    Apakah ini berarti saya memandang rendah para pemimpin yang gelarnya panjang-panjang, yang “beli” -nya sampai ke luar negara? Tidak, sekali lagi tidak. Ilmu merah, ilmu sana, sudah diterima di bangku sekolah dasar dan diteruskan pada jenjang yang berikutnya. Namun, ilmu putih, ilmu sini, BELUM. Sebab, sebelum guru mengajarkan, murid-muridnya sudah lebih dahulu lulus karena faktor usia. Alhasil, mantan murid guru menjadi berwarna-warni. Ibarat kaki, yang satu melangkah ke kiri, yang satu melangkah ke kanan. Akhirnya, jalan pun mekeh-mekeh (Jawa). Ada yang kebarat-baratan dan ada yang kearab-araban. Padahal, antara barat dan Arab saling menyimpan dendam lama. Ingat dengan kasus Perang Salib.
    Kasus sana, jangan dibawa ke sini …🙂

Komentar ditutup.