12. Bagaimana cara menghormati institusi raja?

12. Bagaimana cara menghormati institusi raja?

Jawaban:
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diingat akan konsep ketaatan. Subyek ketaatan bagi Bangsa Manusia Indonesia adalah Tuhan YME (Tuhan YME -nya agama –sesuai dengan agama yang dianut), pembawa agama –yang dianut, dan pemerintah (tuhan yme -nya Pancasila). Dengan kata lain, yang dijadikan sumber dari segala sumber /dasar dari segala dasar /hukum dari segala hukum bagi pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan adalah perintah Tuhan YME.

Pertanyaan bergulir, siapakah pemerintahku?
Dalam jagat cilik, pemerintahku adalah aku (i). Sedangkan dalam jagat gedhe, pemerintahku adalah AKU (ii). (i) memerntah diri sendiri. (i) bersemayam pada hati nurani, hati nurani takkan pernah memerintahkan hal-hal yang salah, dan hati nurani takkan pernah bohong. (ii) memerintah aku — melalui aku lain yang mengetahui apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan. (ii) dimulai dari orangtua (a), guru (b), dan pemerintah itu sendiri (c). Jika ketiganya lurus, maka (i) tidak kehilangan arah, maka (i) tidak ribut, maka (i) tidak membuat ribet.

Dengan dalih kebebasan berserikat dan berkumpul, timbullah masalah. Masalah muncul karena (ii) tidak hanya satu, namun banyak , dan bahkan banyak sekali. Alhasil, (i) harus ”melayani” banyak (ii). Kondisi ini akan menyulitkan (i) dan (i) (i) yang lain. Di situ akan terjadi pemborosan tenaga, waktu, pikiran, dan dana. Keadaan inilah sesungguhnya yang memperlemah daya tahan rakyat. Oleh sebab itu, menjadi wajar manakala rakyat menjadi temperamental. Selama masa transisi, (ii) yang tak berguna, HARUS ditiadakan.

Di samping itu, masalah juga muncul karena (ii) mendua, mentiga, meempat, atau bahkan membanyak. Maksudnya, andaikan sapu lidi, (ii) manjadi tali sapu namun juga sebagai lidi. Andaikan sepakbola, (ii) menjadi penyerang, kiper, sekaligus sebagai wasit. Memang, peraturan /perundang-undangan membolehkan begitu. Namun, justru karena itu, masalah menjadi kian rumit dan pelik. Sebab, batas kewenangan menjadi kabur. Oleh sebab itu, menjadi wajar jika korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi hal yang tidak tabu dan bahkan, suap menyuap menjadi hal biasa. Selama masa transisi, (ii) yang liar HARUS dijinakkan, (ii) HARUS menyatu, (ii) HARUS menjadi satu.

Dengan satu (ii), muncullah raja. Raja tidak mendua seperti halnya presiden. Hanya saja perlu diingat, masa kebesaran raja telah lewat, masa kejayaan sultan pun telah berlalu. Mengingat INDONESIA bukan negara satelit, maka yang dimaksud dengan raja adalah raja yang lain, bukan mereka. Siapakah dia? Dia adalah Nata Negara (Noto Negoro –> Noto Negara –> Nata Negara). Bisa jadi, Andalah yang menjadi Nata Negara Indonesia.

Kembali ke pertanyaan, bagaimana cara menghormati institusi raja? Jawabannya sederhana, seperti Anda menghormati diri Anda sendiri, seperti Anda menghormati orangtua Anda, dan seperti Anda menghormati guru Anda. Nata Negara, sekalipun raja, tetaplah manusia biasa, seperti saya dan juga seperti Anda.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , . Tandai permalink.