13. Haruskah menghormati institusi agama?

13. Haruskah menghormati institusi agama?

Jawaban:

Agama itu tak ubahnya dengan terminal. Di situ banyak bis tersedia sesuai dengan jurusan masing-masing. Oleh sebab itu, yang mau bertemu dengan Tuhan A, silakan naik bis A. Yang mau bertemu dengan Tuhan B, silakan naik bis B, dst. Penumpang A ”tidak” bisa melihat apa yang dilihat penumpang bis B, begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itu, menjadi SALAH BESAR jika sampai menistakan agama alain.

Para awak bis tidak boleh menyeret penumpang bis lain keluar dari bis yang telah dipilihnya. Sebab, semua penumpang mempunyai tujuan masing-masing. Mencuri penumpang bis lain pun, tidak dibenarkan. Para awak bis harus menghormati keamanan dan kenyamanan penumpang bis lain.

Awak bis bisa mempromosikan bisnya, menggambarkan indahnya tempat-tempat yang akan dilalui kepada calon penumpang, itu lain. Dengan begitu, mempromosikan agama x kepada pemeluk agama y, jelas salah. Pertanyaannya, lantas kepada siapa promosi agama dberikan? Lahan garapan bagi agamawan adalah mereka yang belum memeluk sebuah agama yang telah disepakati bersama. Kelompok ini, biasa dikenal dengan nama aliran kepercayaan. Setahu saya, justru aliran kepercayaan inilah ”agama” nenek moyang Bangsa Manusia Indonesia. Kelompok ini masih putih, belum tertumpangi merah.

Katanya, agama = tidak berantakan. Oleh sebab itu, jika sudah mengaku beragama, namun masih suka ribut, masih suka menistakan simbul-simbul agama lain, mending tidak usah beragama, mending menjadi penganut kepercayaan saja. Korban pertikaian akibat agama sudah banyak. Memangnya mau hidup sendiri di muka bumi? Memangnya mau mempercepat datangnya kehancuran? Tanpa berantem pun, dunia pasti kiamat.

Jika berani jujur, bukankah semua agama yang dikenal di bumi Pertiwi adalah pendatang? Sebagai pendatang, hendaklah tidak arogan. Sebagai pendatang, hendaknya tahu diri. INDONESIA adalah bumi GARUDA, bukan bumi SAPI, bukan bumi ONTA, bukan bumi NAGA, bukan bumi ORANG tidur di perempatan jalan, dan sebagainya. Semua harus tahu. Semua harus paham. Semua harus maklum.

Tugas penganut agama adalah menyebarkan kebajikan, menyebarkan rahmad, menyebarkan terang, menyebarkan kebermanfaatan, dan yang semakna dengan itu –bukan malah sebaliknya. Dengan begitu, ”orang tua” akan bersimpati kepada ”orang muda”. Dengan begitu, ”orang tua” akan berempati kepada ”orang muda”. Jika tidak bisa melakukan hal itu, pulangkan saja agama ke negara asalnya. Biarkan Bangsa Manusia Indonesia kembali memeluk agama nenek moyangnya sendiri, seperti semula.

Kembali ke pertanyaan, haruskah menghormati institusi agama? Jawabannya, harus. Caranya? Agama HARUS belajar menghormati dirinya sendiri. Tanpa itu, agama hanya tinggal kata dan akan kehilangan makna.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 13. Haruskah menghormati institusi agama?

  1. Gie berkata:

    kenyataanya… para sopir dan kenet bus saling berebutan mendapatkan penumpangnya.

    hemb,…. yang jadi pertanyaan… Agama dan Spiritualitas. Apa dan Bagaimana serta mengapa om?

Komentar ditutup.