6. Ketika Guru Turun Gunung

6. Ketika Guru Turun Gunung

Ketika guru turun gunung, guru membawa bergerobak-gerobak ke-malu-an untuk dibagikan kepada mantan muridnya yang menjadi pemimpin. Dengan harapan, mereka memiliki rasa malu telah memperdayai yang dipimpin. Dengan harapan, mereka menjadi lelaki sejati meski hanya sehari, meski hanya sekali.

Ketika guru turun gunung, guru tidak perlu meninggalkan kelasnya, bahkan tidak perlu beranjak dari kursinya. Dari tempatnya, ia menge-NOL-kan mantan muridnya yang telah membuatnya malu. Kurang tinggi sekolah mantan muridnya, kurang panjang gelar yang disandang mantan muridnya. Lawanlah kridanya guru, jangan hanya maju satu persatu, majulah bersama-sama, supaya cepat selesai proses pemasangan ke-malu-an.

Perlu diingat, mantan murid telah memasukkan guru ke dalam kotak. Mereka menyebut guru sebagai agen perubahan (catat: jika sekedar agen perubahan maka dia bukan guru, tetapi cantrik. Guru adalah pencipta perubahan), mengalungi kembang kematian (catat: sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Padahal, tidak ada presiden jika tidak ada guru), dan mengencingi guru. Itu semua, jelas melanggar etika. Lantas, apa bedanya mantan murid dengan si Malin Kundang?

Guru turun gunung = Guru yang sedang melaksanakan Bela Negara. Kedudukan guru tak ubahnya dengan Tentara yang juga sedang melaksanakan Bela Negara. Di situ ada resiko yang harus ditanggungnya, yaitu kematian. Padahal, senjata yang dibawa guru berbeda dengan senjata yang dibawa oleh Tentara, namun resiko kematiannya sama.

Terpaksa

Terpaksa disambung

Ketika guru melaksanakan Bela Negara, guru hanya taat kepada Kepala Negara. Guru ”tidak” taat kepada kepala sekolahnya, ”tidak” juga taat kepada atasan kepala sekolah, atasannya lagi, dan lagi. Sebab, kartu mereka telah mati. Hmm, jika tidak berapa-apa, mana mungkin tempua bersarang rendah.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Bernomor dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 6. Ketika Guru Turun Gunung

  1. Gie berkata:

    Tapi masihkah Guru dengan Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Mungkin masih bagi mereka di daerah terpencil, pedalaman dan perbatasan. Namun ketika Guru melakukan Aksi Demo menuntut kenaikan Upah, masihkah Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu ada?

    • sugiarno berkata:

      Sesungguhnya, gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu bukan sebuah sanjungan, melainkan sebuah penghinaan, sebuah pengingkaran. Kalau guru samapi melakukan demo –apapun alasannya, itu berarti dari SANGAT KETERLALUANNNYA keadaan. Sesungguhnya, guru itu nrima ing pandum

  2. agusnuramin berkata:

    aq hormat sekali terhadap guru, krn mrk pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.. hidup guruku.. hhe

Komentar ditutup.