14. Apa akibat dari buta huruf 100% terhadap Aksara Indonesia?

14. Apa akibat dari buta huruf 100% terhadap Aksara Indonesia?

Jawaban :
Perlu diingat bahwa sesuatu itu menjadi penting apabila dianggap penting, dan menjadi tidak penting manakala dianggap tidak penting. Dengan kata lain, ada nilai relatif. Namun nilai tersebut bisa berubah menjadi absolut jika sudah menyangkut hidup mati. Dengan kata lain, jika hidup maka hiduplah agar jelas hidupnya, jika mati maka matilah agar juga jelas matinya.

Huruf adalah padanan kata aksara. Bagi sebuah peradaban, huruf merupakan penyangga peradaban yang otentik. Bagi sebuah bangsa, huruf merupakan bagian dari jatidiri. Bagi sebuah sistem, huruf dan merupakan sub sistem. Bagi sebuah bahasa, huruf merupakan isi, sedangkan lingua merupakan kemasan. Tanpa memiliki huruf, tak ubahnya dengan tubuh manusia tanpa anus (maaf).

Yang dimaksud dengan huruf dalam tulisan ini adalah huruf Aksara Indonesia. Dengan demikian, buta huruf yang dimaksudpun menjadi buta aksara Indonesia. Ketika Aksara, Indonesia naik ke permukaan dan mendampingi lingua Indonesia maka 100% out put pendidikan sebagai penyandang buta huruf, tanpa kecuali.

Lantas, apa akibatnya? Secara personal, TIDAK ADA pengaruhnya bagi mereka. Sebab, Aksara Indonesia bukan untuk mereka. Aksara Indonesia diperuntukkan bagi bangsa manusia baru, bagi generasi baru, bagi generasi yang BENAR-BENAR merdeka. Dengan kata lain, biarlah gagak-gagak menghabiskan bangkai yang tersisa sampai habis … Dalam hal ini, kewajiban generasi lama adalah memberi jalan dan mempersiapkan bekal bagi generasi baru.

Dampak bagi negara, dapat dilihat dari sudut mikro dan makro. Dari sudut mikro (pendidikan /persekolahan). Pertama, selama masa transisi, TIDAK BOLEH ada pergantian buku pelajaran. Ini mengisyaratkan bahwa pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal HARUS pandai-pandai menghemat buku pelajaran.
Kedua, pihak penerbit TIDAK BOLEH mencetak buku pelajaran baru. Alihkan energi untuk mempersiapkan teknologi baru sebagai pendukung aksara baru. Ketiga, guru akan BELAJAR sebelum mengajar (belajar dalam arti sesungguhnya, belajar membuat aksara sendiri –belajar terbang sebelum mengajari terbang. Kasus ini bisa terjadi jika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tidak mampu menciptakan aksara Indonesia). Jika Anda menganggap guru sudah pernah belajar, itu SALAH BESAR. Memang, mereka pernah belajar, namun status mereka ketika itu adalah siswa, bukan guru.

Pertanyaannya, kepada siapa guru belajar Aksara Indonesia? Guru belajar kepada Super Body Guru, yaitu Kepala Negara. Buktikan bahwa Super Body Guru benar-benar tidak buta aksara Indonesia, benar-benar bisa ing ngarso sung tuladha. Memang, tidak mudah. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk menunaikan sebuah pengakuan ”Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Dari sudut makro (negara). Pertama, ribuan pohon sebagai bahan baku kertas /buku pelajaran akan terselamatkan. Efek domino dari selamatnya pepohonan akan terasa pada dekade-dekade berikutnya. Masa transisi adalah masa menghijaukan bumi Pertiwi. Katanya, ada pemanasan global. Kedua, hemat anggaran belanja barang (buku pelajaran) selama 9 tahun. Memang, sudah waktunya jajaran pendidikan memberikan contoh bagaimana hidup hemat. Ketiga, masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan tidak diperpusing dengan pergantian buku pelajaran. Buku pelajaran milik kakak masih bisa dipakai adik.

Pasca transisi, sekolah tidak boleh seenaknya mengganti buku pelajaran setiap tahun /semaunya sendiri. Di samping boros anggaran, juga boros materi. Di samping itu, penulis-penulis buku pelajaran yang kelewat pintar harus mengerem kepintarannya …

Keempat, urgensitas akan kemunculan Aksara Indonesia berkaitan dengan perindustrian. Dengan memiliki aksara sendiri, paling tidak, pasar industri berbasis aksara berada di tangan bangsa sendiri. Sebab, di situ terjadi perubahan secara alami /tidak terjadi lompatan teknologi –dari manual ke teknologi sederhana, lalu ke teknologi tinggi.

Ingat, masa transisi adalah 9 tahun. Pada tahun pertama pasca transisi, murid Kelas I Sekolah Dasar menggunakan aksara baru. Tanpa itu, ikrar Sumpah Pemuda makin terlihat kekurangannya (maaf). Bahkan, jika benar-benar berani jujur, bukantah bahasa Indonesia (lingua Indonesia) pun sebenarnya tidak ada? Bukantah yang diakui sebagai bahasa Indonesia itu sebenarnya adalah bahasa latin dengan dialek Melayu yang di-Indonesia-kan? Jika Anda menganggap saya mengigau, silakan lihat isi (aksara) dari bahasa Indonesia, aksara latin bukan? Jadi, sebenarnya, siapa yang mengigau?

Melahirkan lingua Indonesia pun butuh waktu, … dan butuh nyali. Kelak, dokumen negara dicatat dalam lingua Indonesia dan Aksara Indonesia. Dengan begitu, yang namanya dokumen negara HANYA bisa dibaca /dimengerti oleh NEGARA (beberapa orang negara). Dengan begitu, rahasia NEGARA benar-benar terjaga.

Pertanyaan berikutnya, bukankah ini sebuah kemunduran? Sesungguhnya tidak ada yang dimundurkan. Semua hidup sesuai dengan zaman masing-masing.

Hmm, Mustakaweni harus ditelanjangi supaya kapok🙂

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , , , . Tandai permalink.