60. Tempat Dewa di Khayangan

60. Tempat Dewa di Khayangan

Konon, tempat dewa di negeri khayangan. Jika dewa sampai turun ke bumi berarti akan memberi suatu anugerah kepada penduduk bumi. Memang, kadangkala penduduk bumi menghendaki kedatangan dewa tertentu karena ada hajat tertentu dan untuk itu perlu disediakan seperangkat sesaji tertentu sesuai ajaran dewa tersebut. Dewa sudah senang jika mendapati sesaji yang berupa bunga-bunga beserta perlengkapan dari para pemujanya.

“Dewa” zaman sekarang beda, bukan bunga-bunga yang diminta, bukan kelengkapan sesaji yang diminta, bukan pula lantunan doa yang diminta, tapi lain. Yang diminta oleh “dewa”, bukan itu semua. Bunga-bunga menjadi nomor sekian. Kelengkapan sesaji menjadi nomor sekian. Dedikasi, loyalitas, moralitas, dan sebagainya dari para pemujanya pun menjadi nomor sekian.

Padahal, belum pernah ada ceritanya dewa byayakan (maaf, jawa). Jauh-jauh turun dari khayangan bukan untuk memberikan anugerah, bukan diundang penduduk bumi, tapi malah minta sesaji …

Kalau dipikir-pikir, “dewa” zaman sekarang lebih praktis, tidak ruwet, dan juga tidak rumit. Para pemuja cukuplah menyediakan sebuah amplop –makin besar, makin baik. Makin tebal, makin baik– lengkap dengan isinya. Sedangkan isi amplop pun bisa disesuaikan dengan derajat si “dewa” di khayangan. Ada yang berderajat 1 25, ada yang berderajat 1 50, ada yang berderajat 2 50, ada 1 100, dan seterusnya, makin tinggi kedudukan sang “dewa” maka jumlah nol di belakangnya makin panjang. Nah, praktis kan? Makanya, jika ingin selamat dari gangguan “dewa” harus banyak menyimpan nol.

Lho, masak “dewa” suka mengganggu? “Dewa” kan baik hati, demikian mungkin pikir Anda. Memang, dewa baik hati, tetapi “dewa” tidak. Alih-alih baik hati, perilakunya tidak ada yang patut dicontoh. Anda tahu lintah, atau paling tidak pernah mendengar? Jika belum, baiklah. Saya beri tahu, lintah adalah makhluk penghisap darah, bentuknya seperti cacing. Jika dibunuh dengan cara yang salah maka jumlahnya kian banyak. Begitulah “dewa”.

Selama belum kenyang, gigitannya masih kuat, lebih-lebih jika bertemu dengan bulir yang bernas. “Dewa” baru melepaskan gigitannya jika sudah benar-benar kuuenyaaang. Seperti biasa, sesudah itu, “dewa” pergi tidur. Maaf, salah. “Dewa” lalu belanja …

Pulang dari maal, “dewa” lapar lagi. Lalu, makan lagi. Kalau kemarin dengan jurus “jual ini”, sekarang ganti dengan jurus “jual itu”, pokoknya komplit. Alhasil, sapi-sapi menjadi kurus, pucat, dan tidak menghasilkan susu. Ayam-ayam menjadi mandul dan tidak bisa bertelur. Bebek-bebek takut ke air dan lebih suka mencari makan di darat, alhasil kakinya menjadi bengkak, dan mengurangi jatah makan ayam, dan seterusnya.

Jika belum pernah bertemu “dewa”, Anda termasuk manusia Indonesia yang benar-benar beruntung. Anda harus bersyukur. Kalau bisa, jangan dekat-dekat dengan “dewa” agar tidak kurus seperti sapi, tidak mandul seperti ayam, tidak bengkak kaki seperti bebek, dan seterusnya. Namun tidak ada jeleknya, sebagai bekal dalam perjalanan sebelum memasuki Jalan Indonesia, bawalah segumpal tembakau. Dengan itu, “dewa” takut mengkadali Anda. “Dewa” sangat takut pada tembakau …
—–
Saya percaya, Anda bukan “dewa”. Sebab, tempat dewa di negeri khayangan. Semua dewa mempunyai istana sendiri-sendiri, punya senjata sendiri-sendiri, punya pelayan dengan seragam sendiri-sendiri, pokoknya sendiri-sendiri. Mereka tidak main serobot ke istana dewa lain. Kalaupun turun ke bumi, dewa hanya akan menemui pemujanya –rakyatnya– untuk memberikan anugerah. Dewa tidak akan byayakan sampai ke mana-mana … Dewa itu baik hati, paling tidak di mata para pemujanya. Sekali lagi, tempat dewa di Negeri Khayangan.
Wallahualam

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bangsa dan tag , , , . Tandai permalink.