17. Bagaimana Cara Mengatasi Penganggur Terselubung?

17. Bagaimana Cara Mengatasi Penganggur Terselubung?
Jawaban:
Penganggur teselubung adalah mereka yang ada secara struktural tetapi tidak melaksanakan kewajiban sesuai dengan yang dimaksud dalam pekerjaan strukturalnya. Dengan demikian, yang dimaksud penganggur terselubung dalam tulisan ini ada dalam jajaran kepegawaian pemerintah /wakil rakyat di parlemen.

Penganggur terselubung bisa muncul dalam berbagai kategori waktu. Ada yang jam-jaman, harian, bisa jadi mingguan, dan bahkan bisa jadi bulanan /tahunan. Sungguhpun demikian, hak gaji mereka tidak pernah terputus. Bahasa sederhananya, penganggur terselubung hanya mau gajinya namun menolak kerjanya.

Ketidakhadiran mereka di tempat kerja bukan karena adanya halangan yang bersifat manusiawi (sebut saja, misalnya: sakit, ada hajat yang tidak dapat diwakilkan) tetapi karena ada kegiatan lain yang dipaksa relevan dengan bidang kerjanya (sebut saja, misalnya: rapat x, penataran, seminar, lokakarya, jalan santai, dsb., dan bahkan sampai ke studi banding). Tragisnya, kegiatan yang dipaksa relevan tersebut tidak jarang mendapatkan restu.

Memang, menambah pengetahuan merupakan sebuah keniscayaan untuk berkembang ke arah yang lebih baik dan maju. Namun, pada saat harus melayani masyarakat, justru penganggur terselubung tidak berada di tempat. Pertanyaannya, siapa yang harus menggantikan posisi mereka? Mendelegasikan kewenangan, jelas bukan penyelesaian yang fair. Ingat, hak gaji, mereka sendiri yang ambil. Apalagi, gaji mereka tidak pernah terlambat.

Dengan demikian, untuk menambah pengetahuan /kegiatan lain di luar bidang kerjanya HARUS dilaksanakan di luar jam kerja yang telah ditentukan. Dalam hal ini, bukan hukum kerja sama yang dipakai, namun hukum kerja bersama. Kerja sama bukan berarti kewajiban telinga dikerjakan oleh kaki, masing-masing elemen struktur memiliki kewajiban yang berbeda.

Satu di antara penyebab jatuhnya wibawa pemerintah sebagai penyelenggara negara adalah adanya penganggur terselubung. Sedikit demi sedikit, ketidakpercayaan publik terbangun. Nah, ketika sudah terakumulasi rasa tersebut maka jangan salahkan angin kencang yang datang dan memporak-porandakan semuanya, jangan salahkan kehadiran pemimpin tertinggi ditolak rakyatnya … Dengan segala hormat, semua salah.

Pertanyaan pun berlanjut, rugikah negara? Jelas, rugi. Ibaratnya, negara /pemerintah memelihara itik jantan dalam jumlah besar, sudah tidak menghasilkan telur hanya bisa menghabiskan nasi sebakul.

Jika dirunut ke belakang akan didapat penyebab munculnya penganggur terselubung. Pertama, atasan sebagai pemimpin yang tumpul dalam mengatur bawahannya. Dalam hal ini, bisa disebabkan oleh hutang budi, kalah wibawa, atau karena kartu mati pemimpin berada di tangan bawahan.

Kedua, perilaku atasan sebagai pemimpin yang semena-mena kepada bawahan. Ingat, satu di antara kewajiban atasan adalah melayani bawahan. Sedangkan kewajiban bawahan sebagai ujung tombak adalah melayani masyarakat. Sepanjang para pemimpin hanya bisa menuntut kewajiban para bawahan namun mengebiri hak bawahannya, maka selama itu pula penganggur terselubung dalam klasifikasi ini tetap ada.

Ketiga, ketiadaan keteladanan dari para pemimpin sebagai atasan. Ketika para pemimpin asyik dengan dirinya sendiri, menabur pesona ke elemen peri kehidupan yang lain, membangun jaringan ke sana ke sini, dan semua itu dilaksanakan pada jam kerja, maka jangan pernah bermimpi pelayanan kepada masyarakat akan prima, –dan pada gilirannya– jangan pernah pula bermimpi pemerintah mendapatkan penghormatan dari rakyatnya.

Contoh riil sudah ada di depan mata. Silakan lihat organisasi tentara, atau lihat orang-orang yang sedang beribadah sholat /sembahyang. Di sana, hanya ada satu komando dengan garis lurus. Lalu, tarik ke institusi lain … Dengan pola seperti itu, selangkah lebih maju untuk merealisasikan Persatuan Indonesia.

Bagaimana solusinya? Perkuat organisasi struktural pemerintahan dengan membekukan semua organisasi tandingan di luar arganisasi yang sudah baku. Benalu-benalu yang menghijau di pohon inang perlu dipangkas. Ini berarti harus ada keberanian mengubah cara pandang dengan menggunakan paradigma baru. Nah, sampai di titik ini muncul pertanyaan berikutnya, adakah nyali untuk itu? Sesungguhnya, INDONESIA masih menanti di seberang Jalan Indonesia, indonesia.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , . Tandai permalink.