25. Bagaimana pendapat anda apabila seorang presiden suatu negara meminta kenaikan gaji?

25. Bagaimana pendapat anda apabila seorang presiden suatu negara meminta kenaikan gaji?

Jawaban:
Ketika presiden berkedudukan sebagai kepala negara maka minta kenaikan gaji SANGAT TIDAK WAJAR. Sebab, minta naik ke siapa? Bukantah semua yang bukan kepala negara berada di bawahnya? Minta naik kepada rakyat /wakil rakyat? Hehehe, itu salah alamat. Namun, ketika presiden berkedudukan sebagai kepala pemerintahan maka minta kenaikan gaji SANGAT WAJAR. Kepala pemerintahan minta kenaikan gaji kepada kepala negara. Nah, di bumi Pertiwi inilah sistem presidensil KENA BATUNYA. Makanya, menjadi bangsa yang besar JANGAN LATAH. Bangsa LATAH, sangat LAYAK DILINDAS ZAMAN.

Sebagai tambahan jawaban. Pertama, dalam tulisan saya yang lain ada saya sebutkan bahwa gaji Kepala Negara adalah Rp 64 juta (Rp 64.000.000,-) sedangkan gaji kepala pemerintahan adalah Rp 32 juta (Rp 32.000.000,-). Dengan kata lain –menurut aturan, seharusnya– gaji Presiden SBY adalah Rp 96.000.000,- /bulan. Tetapi, menurut peraturan adalah Rp 62.000.000,-. Dari situ terlihat adanya selisih Rp 34.000.000,- /bulan. Ini berarti, dalam tempo setahun uang gaji beliau mengendap di lumbung uang negara sebesar Rp 408.000.000,- atau sebesar Rp 2.856.000.000,- selama 7 tahun.

Kedua, ketika sistem Bilangan Hindu Arab diluruskan, maka –sesuai aturan dan sesuai peraturan– gaji yang diterima presiden sebesar Rp 6.200.000.000,- (nol milik puluh ratus dan nol milik puluh ratus ribu dikembailkan) /bulan yang dalam sistem peralihan ditulis Rp 62.0000.0000,- /bulan.

Oleh sebab itu, berhentilah berwacana menaikkan gaji presiden /menteri /pejabat /PNS / TNI /Polri. Kembalikan dua nol yang ”disembunyikan” kepada pemiliknya. Nah, bagaimana ekonom? Bagamana matematisi? Bagaimana politisi? Bagaimana dan seterusnya dan sebagainya? Sampai di titik ini ketahuan, siapa yang membodohi siapa.

Masalah keterpurukan tidak ada kaitannya dengan soal gaji presiden /pejabat, terpuruk dibuat sendiri, punya tangan “kiri” dipotong sendiri, punya tangan “kanan” dipotong sendiri. Giliran terpuruk, bingung mencari kambing hitam. Bukantah dari dulu juga terpuruk? Makanya, menjadi bangsa besar, ”Jangan latah”.

“Gubrak”
“Maaf, … saya hanya numpang lewat”.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.