Rohani Demam

Rohani Demam

-mu pulang dari sekolah. Ibunya, Ibu Pertiwi menyambutnya di depan pintu. Dengan penuh rasa, -mu mencium tangan ibunya.
“Setelah cuci tangan dan kaki, ganti baju, dan terus makan,” kata ibu mengingatkan.
“Ah Ibu, tiap hari selalu mengingatkan hal yang sama”.
Ibu Pertiwi hanya tersenyum mendengar protes -mu.
”-mu tidak makan, Bu”.
”Kenapa? Apa masakan Ibu tidak enak?”
”Bukan begitu, tadi kami makan bersama di kelas”.

”Maksudmu makan bersama Bapak dan Ibu Guru?”
”Bukan, mereka masih terus sibuk seperti kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Kami makan bersama Eyang Guru. Katanya, sebagai hadiah …”.

Makan bersama Eyang Guru

Makan Bersama Eyang Guru


”Hadiah? Memangnya, apa yang telah kalian lakukan?”
”Kan …, -mu bersama kawan-kawan pernah menangkap tikus kelas …”.
”O, … yang itu. Ya, Ibu masih ingat …,” sahut Ibu Pertiwi sembari menyiapkan baju ganti -mu, ”Hmm, pasti menyenangkan”.
-mu mengiyakan sambil melepas sepatunya yang butut.
”Tapi, sayang … Rohani tidak ikut makan,” .
Ibu Pertiwi menatap -mu dengan seksama, ”Mengapa?”.
”Rohani demam, Bu”.
”Maksudmu, dia kena demam berdarah? Hati-hati, nanti tertular”.
“Tadinya, -mu juga mengira begitu”.
“Lantas?”
“Kata Eyang Guru, Rohani terserang wabah demam beragama”.
“Ha?! Demam beragama?!!”
“Iya, si Rohani sakit demam beragama”.
“Hmm, … sebuah pengulangan sejarah,” guman Ibu Pertiwi tertahan. Tiba-tiba ia teringat pada Rohadi, ayah si Rohani. Dulu, Rohadi juga kena demam beragama, malah sampai mengamuk, membunuh orang, lantas pingsan sendiri, koma sendiri, dan masuk rumah sakit sendiri.
“Apa, Bu?” tanya -mu tidak paham dengan komentar ibunya.
”Apakah Rohani juga mengamuk di kelas?”
”Ia sedikit histeris dan sedikit mengamuk …”.
”Eyang Guru -mu pasti susah”.
”Iya …, kami semua susah”.
“Jangan-jangan itu penyakit turunan”.
”Maksud Ibu?”
”Ah, bukan apa-apa. Doakan saja si Rohani cepat sembuh”.
”Iya, Bu. Kasihan dia …Padahal, rencananya, kami akan makan bersama selama seminggu”.
”Makan bersama terasa nikmat jika lengkap. Jika ada yang sakit, nikmat pun hilang”.
”Ibu benar. Semoga si Rohani lekas sembuh. Tapi, kalau Rohani sakit enak juga …,”
”Memangnya?”
”Jatah -mu jadi double, -mu kan ketua kelas … hehehe … ”
“O, dasar …”. *****

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , , . Tandai permalink.