Pak Kacuk

Pak Kacuk

kursi sunatan

kursi sunatan


Serentak semua orang yang ada di rumah itu terhentak, kaget. Mereka saling berpandangan, bibirnya bergerak antara senyum dan miris.
”Mengapa adikmu sehisteris itu?” tanya Ibu Pertiwi.
”Hmm, … nanti Ibu juga tahu,” jawab yang ditanya menggantung.
Ibu Pertiwi menatap mata anak sulungnya dalam-dalam. Seakan dengan begitu akan ditemukan sebuah jawab. Namun, jawab itu tak kunjung ditemukan. Akhirnya, ia hanya bisa duduk terpaku pada tempatnya, menanti.
Orang-orang belakang yang menyiapkan makanan pesta khitanan, kembali bekerja. Kaget mereka telah terbang bersama angin. Gelak tawa dan senda-gurau penuh ceria terdengar di sana. Asap dapur pun kembali mengepul. Semua senang, semua gembira, akan ada pesta besar, akan ada pesta khitanan anak bungsu Ibu Pertiwi.
”Nggak, nggak, nggak! … Oh, jangan, jangan!! … Oww, ampun … ampun … ampun!!!”

Hening, semua terpaku pada tempat masing-masing. Yang mengiris bawang menghentikan irisannya. Yang menggoreng kerupuk menghentikan gorengannya. Yang mau minum menghentikan air dalam tenggorokannya. Yang mengangkat kursi menghentikan kursinya. Semua diam, diam, dan diam. Semua terpaku, terpaku, dan terpaku.
Samar-samar terdengar suara alat-alat khitan yang dikemasi. Tak lama kemudian, Pak Kacuk keluar dari bilik kamar si bungsu, anak Ibu Pertiwi. Wajahnya sulit digambarkan. Ada tegang yang ditahan. Ada heran yang ditahan. Ada senyum yang ditahan. Ada kecewa yang ditahan, dan entah apalagi … Ia menahan semua rasa dalam dadanya.
”Anak Ibu … ternyata seorang perempuan …,” katanya perlahan, nyaris tak terdengar. Ia pun menyorongkan pantatnya di sebuah kursi kosong.
Kini, giliranIbu Pertiwi yang terkaget-kaget. Kepalanya mendadak pening, matanya mendadak berkunang-kunang, jantungnya mendadak berdenyut kencang. Tanpa diminta, si anak sulung yang suka berbaju hijau membimbing Ibu Pertiwi ke biliknya, ”Istirahatlah, Ibu …,” bisiknya lembut.
”Mengapa jadi begini?” tanya Ibu Pertiwi.
“Memang begitulah kenyataannya … Sejak semula, ayah dan aku tahu … si bungsu itu perempuan. Dia bukan lelaki … dia tomboi, Bu”.
“Kamu jahat … mengapa Ibu tidak kau beri tahu?”
”Maafkan saya, Bu …,” meski tak bersalah si sulung minta maaf pada ibunya. Sebenarnya, sejak semula Ibu Pertiwi pun tahu, anak bungsunya itu perempuan. Namun, karena ajaran dari gurunya, kalau anak pertama laki-laki maka anak bungsunya juga laki-laki, dan ia pun mengingkari hatinya sendiri. Tetangga-tetangga pun mengamini pengingkaran itu. Kini buah pengingkaran itu telah berbuah dan menampar wajahnya.
“Oh, pantas saja … dia suka bergandengan tangan dengan pemuda seberang … Tadinya, Ibu pikir ia berkelainan … Ternyata, dia perempuan …”.
”Ibu harus tegar …”.
Ibu Pertwi tersenyum tipis, “Terus pestanya?”
“Tenang, biar aku yang urus semuanya. Ibu istirahat saja … Tidurlah yang nyenyak, Ibu”.
Tanpa menunggu jawaban, si anak sulung pun menemui Pak Kacuk. Ia membisikkan sesuatu. Sontak, wajah Pak Kacuk yang tegang.
“Ha? Kamu minta khitan lagi?”
Si anak sulung yang sudah perjaka itu mengangguk malu, “ Mari, Pak Kacuk … ,” katanya sembari melangkah menuju biliknya.
Kali ini, Pak Kacuk tersenyum … Orang-orang di rumah Ibu Pertiwi pun tersenyum … *****

Catatan:
Pak Kacuk adalah sebutan bagi tukang khitan di kampung.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , , . Tandai permalink.