Mental Kuli

Mental Kuli

Asam, asal mau (kem-) Bali manis

Asam, asal mau (kem-) Bali manis

Ibu Pertiwi menghentikan langkah kakinya,” Akan ke mana lagi, Gus?”
Bocah Bagus, anak sulungnya tersenyum simpul, ”Ini, Bu … akan seminar, melanjutkan yang kemarin, dan kemarinnya lagi …”.
”Dengan membawa uang bergerobak-gerobak, untuk apa?”
”Lho, sekarang zamannya lain, Bu. Pemakalah yang harus menyiapkan uang”.
”Maksudmu, Pemakalah membayar para peserta seminar?”
Bocah Bagus mengangguk,”Eranya sudah beda, Bu”.

”Ibu tidak mengerti, maksudmu?”
”Sekarang, semua sudah pintar. Mau ini, pakai uang. Mau itu, pakai uang. Siapa yang ingin didengar suaranya harus menyiapkan sejumlah uang, tidak ada yang gratis, Bu”.
”Hmm, … mereka sudah berubah,” desah Ibu Pertiwi.
”Ya, semua telah berubah. Semua geraknya minta dihargai dengan uang”.
”Hanya mendengarkan orang berbicara, hanya mendengarkan pendapat, hanya mendengarkan arahan sudah harus menerima uang … Sudah separah itukah, Gus?”.
Lagi-lagi Bocah Bagus tersenyum pedih, ”Istilahnya, uang dengar, uang rapat, uang konsultasi, dan entah uang apalagi…,” jawabnya menjelaskan.
Ibu Pertiwi tercenung. Eranya sudah beda. Jenis tantangan sudah beda, jika masih juga menggunakan cara yang sama, cara yang lama, tentunya akan tergerus zaman.
”Lantas, ikhlasnya di mana?”
”Ikhlas?!” Bocah Bagus tersentak,” … Kang Ikhlas telah lama pergi”.
”Ha, pergi? Kapan?!”
”Ketika ke- ikhlas -an berbuah pengkhianatan, saat itulah dia pergi”.
”Aduh, Anakku. Maaf, Ibu tidak bisa memberimu bekal lagi …,” kata Ibu Pertiwi terbata.
”Tak apa-apa, Bu. Aku hanya minta restu dan sedikit asam Bali, untuk bekal. Aku tidak minta yang lain. Lagi pula, Ibu tenang saja. Uangku banyak, tinggal mereka minta dibayar berapa”.
”Masih dalam tataran mendengarkan saja sudah minta dibayar, lantas kalau kerja?”.
Bocah Bagus tertawa renyah. Giginya putih berkilau memantulkan cahaya mentari pagi. Sembari memasukkan gebokan uang terakhir ke dalam gerobak, ia mengangkat alisnya.***

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , . Tandai permalink.