Matahari -pun Tertunduk Malu

Matahari -pun Tertunduk Malu

Ibu Pertiwi benar-benar panik. Betapa tidak, pulang dari makan bersama di restoran Global, suami dan semua anaknya mabok. Muntahan mereka berceceran di mana-mana, dari halaman depan sampai halaman belakang, dari teras sampai dapur, dari kamar tidur sampai kamar kecil, dari piring makan sampai lahan mencari makan, dan bahkan dari pakaian dalam yang dikenakan sampai pikirannya.
Bau menyengat yang menusuk hidung ada di mana-mana. Satu persatu langau mulai berdatangan, satu persatu lalat mulai berhamburan, satu persatu kecoa mulai berseliweran, bahkan rombongan tikus pun tidak mau ketinggalan. Semau berpesta-pora, ada gelak tawa, dan ada canda.

air kelapa hijau untuk obat "sakit" mabok

air kelapa hijau untuk obat "sakit" mabok

Mondar-mandir ia memijit punggung mereka satu persatu. Mondar-mandir ia membersihkan limbah perut mereka. Mondar-mandir ia mengangkat mereka yang pingsan dan membaringkan di tempat yang aman. Kepalanya mulai pening, matanya mulai nanar, ia jatuh terduduk di lantai. Untuk beberapa saat, ia hanya mampu memandangi semua buah hatinya.
Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya sewaktu tinggal di tanah Jawa –ketika itu, ia memanggilnya Ibu Jawa, ”Minumlah air degan kelapa hijau jika mabok”. Segera saja Ibu Pertiwi bangkit dari duduknya. Memang, ketika sudah tidak ada obat yang mempan, air degan kelapa hijau dipercaya sebagai obat mujarab untuk mengatasi ”sakit” mabok.
Galah panjangnya, masih sangat kurang panjang untuk menggapai buah kelapa. Tak kurang akal, Ibu Pertiwi pun mengangkat tangga yang biasa dipakai suaminya untuk membersihkan sarang laba-laba yang mengotori rumahnya.
Satu, dua, tiga buah tangga disambung, diikat erat dengan helai rambutnya yang panjang, disimpul mati dengan tetes air mata kasihnya. Setelah celingukan ke sana – ke mari, memastikan tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan, ia memastikan niatnya, ia pun menyingkapkan kain panjangnya. Betisnya yang putih nampak berkilau …
Kini, tangga sudah bersandar kokoh pada batang pohon kelapa Galah sudah berada di tangan kanannya. Meski sesungguhnya takut pada ketinggian, namun demi keluarganya, Ibu Pertiwi harus melakukan sendiri.
Di atas sana, Matahari -pun tertunduk malu.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , . Tandai permalink.