118. DENGAN BERCERITA MEMBANGUN KARAKTER ANAK

118. DENGAN BERCERITA MEMBANGUN KARAKTER ANAK

Pengantar
Banyak cara dilakukan oleh orangtua untuk membangun karakter anaknya. Ada yang dengan memberikan pujian, hukuman, dan dengan bercerita. Pujian diberikan ketika sang buah hati melakukan sesuatu yang berkenan di hati orangtua. Hukuman diberikan ketika mereka melanggar aturan yang telah ditetapkan orangtua. Sedangkan bercerita? Bercerita akan membuat anak senang.

Bercerita
Bercerita merupakan kegiatan mengungkapkan sesuatu, baik secara lisan maupun tertulis. Hanya saja, karena lingkup pembahasan hanya dalam keluarga maka bercerita yang dimaksud adalah bercerita dalam bentuk lisan. Penceritanya adalah orangtua, sedangkan pendengarnya adalah anak-anak mereka.

Sejalan dengan hal itu, orangtua perlu menyisihkan sedikit waktu untuk bercerita, misalnya bercerita sebagai pengantar tidur. Mengingat sifatnya yang keluargais maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dari orangtua.

Pertama, tema cerita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak sangat senang mendengarkan cerita. Ketertarikan ini erat kaitannya dengan perkembangan usia mereka. Menurut teori Ilmu Jiwa Perkembangan, pada kisaran usia sekolah dasar, anak masih suka berfantasi. Agar cerita tidak ngelantur ke mana-mana, orangtua perlu membatasi tema cerita. Pilih tema cerita yang ringan, yang dekat dengan keseharian mereka. Dengan demikian, anak dibawa masuk ke dalam cerita. Sehingga, mereka seakan-akan ikut mengalami.

Di samping itu, harus diingat bahwa dalam cerita dikenal akan adanya tokoh, alur, latar, dan sebagainya. Pada cerita dikenal banyak tokoh. Ada tokoh protagonis (tokoh baik), tokoh antagonis (tokoh jahat), tokoh figuran, tokoh sekadar lewat, dan sebagainya. Misalnya, pada cerita Kancil dan Siput. Kancil menjadi tokoh antagonis, siput menjadi tokoh protagonis, sedangkan hewan-hewan yang lain berkedudukan sebagai pemain figuran. Jika cerita menggunakan tokoh manusia. Maka sebaiknya yang menjadi tokoh protagonis adalah Si Upik (nama anak sulung –yang kebetulan perempuan). Sedangkan tokoh protagonisnya, Si Dadap (nama asal comot).

Kemudian juga dikenal akan adanya alur cerita. Dalam hal ini, ada alur maju dan ada juga alur mundur. Yang dimaksud dengan alur maju adalah, cerita diawali dari ”permulaan” dan ”berakhir” pada akhir cerita. Sedangkan alur mundur adalah, cerita diawali dari ”akhir” cerita dan diakhiri pada ”awal” cerita. Hanya saja, agar tidak membingungkan, seyogyanya cerita beralur maju. Yang tak kalah pentingnya adalah memilih akhir cerita, mau berakhir sedih, gembira, atau masih misteri.

Latar bisa berupa latar tempat kejadian, misalnya istana raja, hutan belantara, pasar, tepian sungai, dan sebagainya. Latar bisa juga berupa latar waktu, misalnya: masa lalu, waktu zaman pemerintahan raja anu, dan sebagainya.

Sambil bercerita, orangtua perlu memperhatikan respon anak. Respon dapat dilihat pada antusias anak. Secara umum, respon positif akan terlihat ketika ada komunikasi dua arah selama kegiatan berlangsung. Dengan kata lain, mereka tidak hanya diposisikan sebagai pendengar pasif.

Memang, bercerita sepertinya sulit, namun dengan sering melakukan kegiatan tersebut orangtua bisa mengekplorasi kemampuan diri.

Kedua, nilai yang hendak ditanamkan.
Secara garis besar, ada dua buah nilai dasar, yaitu baik dan buruk, salah dan benar. Dangan cerita, nilai-nilai luhur ditanamkan. Bahwa perilaku jujur, rajin, patuh pada orangtua /guru, taat beribadah, cinta tanah air, dan sebagainya itu baik /benar. Bahwa perilaku mencuri, berbohong, memfitnah, dan sebagainya itu buruk /salah.

Nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia akan lebih mudah meresap ke dalam sanubari anak jika disajikan dalam bentuk cerita. Mereka tidak merasa digurui. Mereka juga tidak merasa mendapatkan tegoran. Mereka pun tidak perlu menghafalkan teks-teks panjang. Mereka bisa belajar bagaimana seharusnya mengambil sikap dalam situasi tertentu. Kalaupun mereka tersindir dengan cerita yang disampaikan, mereka bisa beragumen dalam suasana santai.

Penanaman nilai ini sangat penting. Apalagi di saat rasa hormat pada orangtua, patuh pada guru, taat pada pemerintah, menghargai sesama, dan sebagainya mulai luntur pada sebagian anak bangsa. Kondisi ini, sedikit banyak menjadi beban moral bagi orangtua. Ingat, orangtua adalah guru yang pertama. Guru-guru di sekolah hanya guru kedua. Jika guru pertama saja sudah tidak berhasil, apalagi guru kedua.

Oleh sebab itu, menuding lunturnya semua yang baik-baik karena kegagalan guru sekolah tidak sepenuhnya benar. Orangtua juga punya andil dalam keruntuhan moral anak-anak, malah lebih besar.

Yang tidak kalah pentingnya adalah terbangunnya ikatan batin antara orangtua dengan anak melalui cerita. Padahal, membangun ikatan tersebut tidak cukup sehari dua hari dan tidak bisa instan. Butuh waktu panjang dan butuh proses panjang untuk sampai pada tahap ikatan batin yang kuat.

Penutup
Mengingat akan manfaat cerita bagi perkembangan jiwa anak maka tidak ada salahnya jika para orangtua melakukan kebiasaan tersebut di rumah masing-masing. Tanamkan dalam hati bahwa bercerita itu mudah, meriah, berdaya guna, dan berhasil guna. Televisi boleh saja menayangkan cerita dalam bentuk film –apa saja– yang bagus. Namun orangtua, jangan kalah.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan, Sisipan dan tag , , , , , . Tandai permalink.