Usai Pementasan

Usai Pementasan
Usai pementasan penggalan drama yang berjudul Demonstrasi, Sang Sutradara mengumpulkan para pemain di sebuah tempat …
(Semua pemain keluar. Sutaradara duduk di kursi tertinggi, yang lain duduk santai di kursi masing-masing. Ada yang merokok, ada yang ngemil)

Barang Pinjaman

Barang Pinjaman


Sutradara : Kamu yang tukang demo, penjiwaanmu masih kurang. Seharusnya, kamu begini dan begini. (Sutradara memberi contoh gerak-gerak yang kelihatannya jantan /jagoan)
Tukang Demo : Maaf, Bos … Kaki saya lagi sakit …
Sutradara : Kamu pintar cari alasan. Awas, jangan begitu lagi… Jika tidak bisa, besuk-besuk, kamu tidak aku pakai lagi
Tukang Demo : Siap, Bos.
Polisi : Bagaimana dengan kami, Bos?
Sutradara : Lumayan, aktingmu bagus … Aku suka (Sambil memainkan rokoknya, sutradara tersenyum)
Polisi : T’rima kasih, Bos
Sutradara : Emm, aktingmu bagus saat menyeret demonstran ke mobil …
Tukang foto : Bagaimana dengan kami, Bos?
Sutradara : Kamu jangan bergerombol di dekat tukang demo atau polisi. Kamu harus menjauh … Coba lihat di TV … (Sutradara memutar ulang video rekamannya) … Kesannya dipaksakan … Kalian mengerti maksudku? Harusnya, kamu di sana …
(Sutradara menunjuk tempat kosong, Tukang Foto mengangguk-angguk)
Tukang shoting: Kalau kami, bagaimana?
Sutradara : Hmm, kamu harus hati-hati … Alat yang kamu bawa, mahal harganya … Jangan sampai kena lemparan batu atau kena pentungan polisi … Aktingmu lumayanlah.
Tukang shoting: Siap, Bos
Sutradara : Cari momen yang kelihatannya bombastis … Kipasi tukang demo supaya lebih agresif. Kipasi polisi supaya lebih … apa ya istilahnya …
Tukang demo : Lebih garang
Sutradara : Ya, lebih garang … Tuh, seperti yang di Mesir … Pemirsa TV pasti suka … T’rus, besuknya Tukang HAM harus bersuara di media massa, gitu … Paham semua?
Tukang HAM : Ya, ya … kami paham ..
Sutradara : Sekarang bubar , aku mau tidur … Ohya, hr kalian bisa langsung dicairkan … Sana, ambil ke kasir …
Semua : Siap, Bos
(Semua pemain masuk, layar diturunkan)

Pementasan pun usai. Sutradara Sungguhan naik ke pentas. Ia mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada penonton dan tuan rumah.
Sesudah itu, semua pemain berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Baju-baju pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya. Barang-barang pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya. Mereka yang di atas pentas menerima uang (apa pun istilahnya) pun dikembalikan kepada pemiliknya. Tak lama kemudian, Bendahara Pertunjukan muncul, ia membawa amplop-amplop honorarium mereka. Semua tersenyum, puas …
Kini, halaman rumah Ibu Pertiwi kembali sepi. *****

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , . Tandai permalink.