Naik Daun

Naik Daun

Namanya juga kepada generasi penerus, sayangnya Eyang Guru kepada cucu muridnya seperti sayangnya kakek /nenek kepada cucu-cucunya.
Oleh sebab itu, pada suatu hari yang cerah, Eyang Guru mengajak mereka jalan-jalan keluar sekolah. “Belajar kepada Alam,” katanya. Tentu saja, para cucu murid sangat senang. Mereka bersorak, merasa terbebas dari kewajiban duduk manis di dalam kelas.
Sungguhpun demikian, Eyang Guru tetap mengevaluasi (yang di ranah hukum disebut mengadili) kegiatan tersebut pada akhir pembelajarannya.

Bekicot naik daun

Bekicot naik daun

”Apa saja yang kamu lihat di jalan tadi, Budi?” tanya Eyang Guru.
”Banyak, Eyang … Ada hal baik dan ada hal tidak baik. Ada benar dan ada salah,” jawab Budi tangkas, ”Ada baik dan benar, ada baik tapi salah. Ada tidak baik tapi benar, dan ada tidak baik juga salah. Saya pilih …,” lanjutnya menggantung.
”Sudah cukup,” Eyang tidak menanyakan pilihanmu.
”Tapi , …”.
Eyang Guru tersenyum, ”Yang lain juga perlu didengar pengalamannya …”.
”Eyang, aku tadi melihat koruptor,” kata Mo Ralis.
”Aku juga melihat,” sahut Pur Itan.
”Aku juga,” anak-anak yang lain pun menyahut.
”Oya? Hayo, anak siapa koruptor itu?”
”Anak Bu Roh Hina,” jawab Moralis cepat.
”Benar, Eyang … Koruptor itu anak Bu Roh Hina,” Pur Itan memberikan dukungannya.
Eyang Guru mengangguk,”Wow, hebat!”.
”Eyang, aku melihat Preman berseliweran …,” kata si Jeli Ta.
”Masak? Di mana Jeli Ta?”
”Ya, Eyang … Aku juga melihat. Preman ada di mana-mana,” sahut Wasi Pada.
”Hmm, … Hayo, siapa tahu, anak siapa Preman itu?”
”Anak Bu Roh Hina,” jawab Jeli Ta dan Wasi Pada hampir bersamaan.
”Kalau aku lain, Eyang,” celetuk Luh Ing Tyas dari kursi paling belakang.
”Apa yang kau lihat, Luh?” tanya Budi ingin tahu.
Luh Ing Tyas tidak segera menjawab. Ia membetulkan pita Merah Putih yang terasa kendor di rambutnya. Murid-murid yang lain menunggu.
”Apa yang kau lihat Luh?” Budi mengulang pertanyaannya.
”Aku melihat, anak-anak yang taat pada orangtuanya. Murid-murid yang taat pada gurunya. Jamaah umat yang taat pada imamnya. Rakyat yang taat pada pemerintahnya …”.
“Hayo, anak siapa mereka,” tanya Eyang Guru memotong.
“Anak Ibu Pertiwi!” jawab seisi kelas serempak.
”Pasti Ibu Pertiwi bahagia mempunyai anak-anak yang baik seperti mereka,” kata Eyang Guru, “Kalau Tukang Suap?”
“Jelas anak Bu Roh Hina,” sahut Budi.
”Masak?”
”Iya, Eyang,” sela Budi lagi, ”Penerima Suap pun anak Bu Roh Hina”.
”Ya, Eyang … Mereka anak Bu Rohina,” seisi kelas membenarkan.
”Pegemis, bukan Pengemis, juga anaknya,” sahut Mo Ralis.
”Perusak Alam pun anaknya,” sambung Pur Itan.
”Pengemplang Pajak lagi …,” tukas yang berbando biru.
”Perampas Lahan Kehidupan orang lain juga anaknya… ,” sahut yang berbaju kotak-kotak.
”Ternyata, anak Bu Roh Hina itu banyak …,” kata Eyang Guru, ”Untunglah, kalian semua anak Ibu Pertiwi. Jika tidak, entah apa jadinya negara ini …”.***

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.