Menangkap Capung

Menangkap Capung

Tadinya Ibu Pertiwi tidak percaya pada laporan Si Kecil yang kesulitan menangkap capung. Sebab, di padang rumputnya, capung tak terbilang jumlahnya. Mereka biasa terbang rendah, apalagi menjelang hujan, dan biasa hinggap di pucuk-pucuk perdu.
“Sungguh, Bu,” kata Si Kecil berusaha bicara jelas.

Hanya Menangkap Capung

Capung

“Lantas, ke mana mereka pergi?”
Si Kecil tidak segera menjawab. Matanya tertumbuk pada anak-anak ayam negeri yang menciap-ciap kelaparan. Mereka ingin mendapatkan asupan gizi yang lebih baik. Sementara induknya, sibuk mengurus –anak ”kandungnya yang lain”– anak-anak itik yang asyik menangkap ikan di selokan yang becek.
“Mmm, sebenarnya … sebenarnya … capungnya masih banyak. Hanya hinggapnya di tempat tinggi dan …,” jawab Si Kecil menggantung. Matanya menerawang jauh …
“Dan … apa maksudmu?” tanya Ibu Pertiwi menjajaki.
“Di sana, ada Pangeran Wang mengunakan pulut lain”.
”Apa kau bilang? … Pangeran Wang?!” tanya Ibu Pertiwi kaget. Mendadak wajah ibu berubah, memerah semerah mentari pagi, ”Pangeran Wang ikutan menangkap capung?”.
Si Kecil mengangguk, ”Iya, Bu … Aku … aku … aku kalah dengannya,” kata Si Kecil dengan suara perlahan, nyaris tak terdengar, ”Aku kalah … Maafkan aku, Bu,” lanjutnya.
Ibu Pertiwi menghela nafas panjang, ”Kamu kalah? Hmm, wajar … dia bukan lawanmu”.
”Padahal, tidak jarang aku harus bermalam di emper toko, di pinggiran rel kereta api, di bantaran sungai … Namun, selalu kalah dengan Pangeran Wang. Jangankan siang, malam hari pun, tanpa dipulut pun, capung-capung banyak yang mengejarnya,” lanjut Si Kecil sambil membetulkan ikat pinggangnya yang nyaris putus.
Ibu Pertiwi kian termangu.
”Kadang-kala, aku harus mengejarnya sampai ke Singapura, ke Hongkong, ke Saudi … Namun, capung-capung itu dirampas Pangeran Wang untuk bersenang-senang”.
“Sabarlah …”.
“Iya, Bu … Meskipun bibirku sampai dhedhel dhuwel dihantam rembulan, punggungku disetrika matahari, tubuhku diperas bintang sampai tidak ada lagi peluhnya, aku akan sabar. Katanya, sabar itu subur … Katanya, wong sabar luhur wekasane … ,” jawab Si Kecil dengan air mata bercucuran, “Aku akan berusaha sabar, seperti nasihat mereka …”.
”Sabar … sabar … sabar, Anakku,” kata Ibu Pertiwi sembari memeluk erat Si Kecil.
”Iya, Bu … Derita di dunia paling lama juga seumur hidup,” jawab Si Kecil fasih, sefasih para bijak di televisi.
Ibu Pertiwi tercenung. Mereka berdua hanyut dalam pusaran pikiran masing-masing.
”Ibu harus melihat sendiri … Ayahmu tidak mungkin ke sana. Kakak-kakakmu pun tidak mungkin ke sana. Mereka lagi sibuk,” kata Ibu Pertiwi tiba-tiba.
‘Ya, mereka semua sibuk …,” jawab Si Kecil sambil mengangkat alisnya.
Ibu Pertiwi tersenyum,“Lagi pula hanya menangkap capung, bukan buaya …”.
”Hehehe … Ibu lupa, ya?” tukas Si Kecil, ”Buaya sudah dijinakkan Mas Joko Tingkir …”.
”O, ya, … dan itu sudah dikerjakan berabad-abad yang silam. Maaf, Ibu jadi pelupa. Sekarang, kamu mandi yang bersih Ibu akan buatkan pulut baru untukmu”.
”Ya, Bu …”.
Keduanya tersenyum. Semilir angin senja menjatuhkan selembar daun kering. Tak lama kemudian, malam pun membayang … *****

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di selembar dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menangkap Capung

  1. Rapid Gigabitz berkata:

    i like it Menangkap Capung | tarian raja garuda now im your rss reader

Komentar ditutup.