Maaf

Maaf

Dengan sedikit menahan nafas, “Maaf, anakku,” kata Ibu Pertiwi di meja makan.
“Ada apa, Bu? Ibu salah apa?” tanya -nak.
“Hari ini, Ibu hanya bisa membuatkan sambal the RI”.
“Ah, Ibu ada-ada saja … sambal the RI kan sambal nasional kita”.

Sambal the RI, sambal nasional

Sambal the RI, sambal nasional


“Oya?”
“Iya, Bu … Yogya punya gudek. Sidoarjo punya petis. Banyuwangi punya sarden. Makassar punya cotto … Trus, trus, trus … hehehe … lupa, maaf … Indonesia punya sambal the RI“.
“Sebenarnya, Ibu akan membuatkan sambal kacang. Tapi, kacang tanah berdemo. Mereka tidak mau jadi kambing hitam lagi”.
“Maksud Ibu?”
“Sebagian orang sering mengatakan, jangan seperti kacang lupa pada kulitnya. Malah ada yang lebih jelas lagi, jangan melupakan sejarah”.
“Lalu?” tanya -nak lagi.
“Makanya, daripada disalahkan terus menerus, si kacang tidak mau keluar dari kulitnya”.
-nak hanya melongo.
Hening.
“Mudah-mudahan kamu tidak alergi makan sambal the RI,” kata Ibu Pertiwi beberapa saat kemudian, “Jika alergi, mending …,” Ibu Pertiwi tidak melanjutkan kalimatnya. Hanya matanya menatap jauh ke cakrawala. Ia berharap dapat menemukan jawab di sana.
“Mmm, …aku … aku …,” -nak termangu dengan kata-kata yang membuncah di dadanya, yang sudah menggantung di ujung bibirnya.
“Dulu, Ibu buatkan susu, kamu tumpahkan. Katamu alergi susu,”
-nak kian termangu dan tidak bertanya lagi.
Hening, hening, dan kian hening
…..
Jika ada kesalahan dalam penulisan, maaf

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Menjitak Bintang dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Maaf

  1. Richie Panelli berkata:

    I’d be inclined to cut a deal with you here. Which is not something I typically do! I really like reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to speak my mind!

Komentar ditutup.