Mimpi si Mas

Perlahan sopir Ora Dora menambah laju kecepatan kendaraannya. Sambil tersenyum ia memperhatikan si Mas yang tertidur. Keneknya, Ora Sembada ikut-ikutan tersenyum.
—–
“Proklamasi … Kami bangsa Indonesia dengan ini menyataka kemerdekaan Indonesia …
Merdeka! Merdeka!”

“Si Mas lagi mimpi,” celetuk sopir Ora Dora.
“Sepertinya begitu,” sahut Ora Sembada, “Lihat, nyenyak sekali”.
Sekilas sopir Ora Dora melihat spion, bibirnya tersenyum tipis.

“Dor! Dor! Dor!”
“Kamu, DI /TII, PRRI /Permesta, RMS pemberontak! Pergilah ke dasar neraka!”
“Dor! Dor!Dor!”

“Ganyang komunis!”
“Bubarkan PKI … ”

“Hore, hore, partaiku menang!”
“Pelita kependekan dari Pembangunan Lima Tahun”.
—–
“Apa pula itu?” Tanya sopir Ora Dora, “Kelihatannya si Mas senang”.
Kenek Ora Sembada hanya mengangkat bahunya.
“Coba, kau raba dahinya … Jangan-jangan demam”.
“Sepertinya panas,” kata Ora Sembada saat meraba dahi si Mas.
“Mudah-mudahan tidak apa-apa”.
—–
“P4 adalah Pedoman Penghayatan …
“Hore,hore, kita berswasembada pangan … KB berhasil … sekolah Inpres berdiri …pasar Inpres berdiri … hore, hor … e … “

Tertidur dalam perjalanan pulang

Tertidur dalam perjalanan pulang


“Yang meributkan KKN itu kan barisan sakit hati … hehehe …”
“Kamu jangan nepotisme!”
“Ini lagi, malah berkolusi … dasar …”

“Kamu teroris, ya?!”
“Gantung Koruptor!!”
“Tegakkan keadilan!!!”

Rumah Tuan telah kelihatan, lampunya terang benderang. Perlahan, sopir Ora Dora mengurangi kecepatannya. Ia tidak berani sembarangan menghentikan kendaraannya. Seperti biasa, mobil harus berhenti di depan pintu. Sambil tersenyum, ia memperhatikan si Mas yang masih tertidur pulas. Keneknya, Ora Sembada ikut-ikutan tersenyum.

“Mas, bangun … Kita telah tiba di rumah …,” bisik sopir Ora Dora.
Si Mas hanya menggeliat, malas.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Menjitak Bintang dan tag , , . Tandai permalink.