Ternyata, Umar O hanya minta uang

Ternyata, Umar O hanya minta uang

Dulu, Umar O membangunkan orang tidur untuk diajak pergi berperang. Katanya revolusi mengusir penjajah supaya orang tidur bisa merdeka. Sebab, kalau merdeka hidup akan adil, makmur, rukun, damai, aman, tenteram, dan sejahtera. Ternyata, setelah penjajah pergi, tempatnya digantikan oleh Umar O, dan cara penjajah pun dilanjutkan oleh Umar O. Madu merdeka disedot sampai tandas oleh Umar O. Ia pun membuang sampahnya. Sambil menggigit jari, orang bangun membawa pulang sampah merdeka untuk diserahkan kepada ibunya, Ibu Pertiwi.

Ajakan Umar O pun berubah, pengabdian. Orang bangun pun bersegera untuk mengabdi dengan sepenuh hati, segenap jiwa raga. Giliran enak sudah di depan mata, Madu pengabdian disedot sampai tandas oleh Umar O. Ia pun membuang sampahnya. Sesudah itu, Umar O mencoret pengabdian dari peredaran dan digantikan dengan tuntutan profesional. Sambal menggigit jari lagi, orang mengabdi memunguti sampah pengabdiannya untuk diserahkan kepada ibunya, Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi membakar sampah

Ibu Pertiwi membakar sampah

Orang mengabdi pun berlomba belajar agar bisa menjadi ahli dan bisa masuk dalam jajaran profesi yang diminta. Giliran keprofesionalan sudah dikuasai oleh orang mengabdi, Umar O menyedot madu profesional. Sampahnya pun dibuang , keahlian masuk tong sampah. Sebagai gantinya, yang diminta adalah uang … Alasannya, jer basuki mawa bea (jika ingin hidup enak, harus mengeluarkan biaya). Lagi-lagi, orang profesional gigit jari. Ia pun pulang membawa sampah profesionalnya. Ia pun mengadu pada ibunya, Ibu Pertiwi.
Rumah Ibu Pertiwi pun penuh sampah. Tanpa ada angin pun, sampah telah berceceran.

Ibu Jawa pun berkomentar,”Isuk dhele sore tempe”, yang secara umum berarti mencla-mencle (tak dapat dipegang ucapannya).
Ibu Madura pun menyahut, “Mon sappe seetegu’ bunto’na, mon oreng seetegu’ caccana”. Artinya, jika sapi yang dipegang ekornya, jika manusia yang dipegang ucapannya.

Termangu Ibu Pertiwi melihat sampah-sampah yang dibawa pulang anak-anaknya. Dari Sabang sampai Meraoke, nyaris tak ada tempat kosong. Sampah yang kian menggunung harus dibersihkan, gumannya lirih. Hatinya perih, tak terasa air matanya pun berlinang melihat jerih payah anak-anaknya terbuang sia-sia.

Dengan menggunakan sapu lidi yang telah butut, Ibu Pertiwi menyapu sampah kemerdekaan, dari halaman depan hingga halaman belakang. Ia pun menyapu sampah pengabdian dari satu hati ke hati yang lain. Ia pun menyapu bersih sampah keprofesionalan, dari satu profesi ke profesi yang lain. Ia sapu bersih semuanya.

Dengan masih bercucuran air mata, sampah-sampah yang dibawa anak-anaknya dibakar di halaman belakang rumahnya, “Ah, ternyata bukan ini yang diminta … Umar O hanya minta uang. Aku saja yang terlambat mengerti. Ternyata, yang dimaksud dengan revolusi itu refulusi” gumannya seraya menjatuhkan api, “ Hmm, sebuah permintaan yang sederhana … sederhana, remeh, atau rendah?”

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Menjitak Bintang dan tag , , , , . Tandai permalink.