32. Apa tujuan Adil?

32. Apa tujuan adil?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada sebuah pertanyaan pendahuluan. Adil menurut siapa? Aku, Anda, atau Ia?
Jika menurut aku, maka aku-aku yang lain pun akan angkat bicara. Semua akan berbicara menurut aku -nya masing-masing. Jika ini dilakukan, maka sampai kiamat pun tidak akan ketemu juntrungnya. Begitu pun jika fersi Anda yang digunakan, atau bahkan fersi Ia yang digunakan.
Lantas fersi siapa? Tentu saja fersi Pancasila yang dipakai sebagai tolok ukur. Adil fersi Pancasila adalah adil yang beradab. Artinya, adil tersebut sesuai dengan harkat martabat manusia. Dengan kata lain, adil yang tidak semena-mena. Sekarang lihat kondisi lapangan. Apakah ke-adil-an yang dijunjung oleh Pancasila sudah beradab sesuai dengan harkat kemanusiaan?
Dalam hal ini, saya tidak perlu membahasnya. Sebab, tanpa dibahas pun Anda sudah dapat melihat sendiri dari siaran televisi, dari siaran radio, dan dari media komunikasi yang lain, atau bahkan telah merasakan sendiri. Jika sudah adil maka tidak akan ada unjuk rasa menuntut keadilan. Dari situ terlihat bahwa, keadilan yang dijunjung oleh Pancasila belum terwujud di bumi Pertiwi.
Nah, untuk membumikan keadilan fersi Pancasila maka harus ada yang dijadikan ”korban”. Lantas siapa? Pertanyaan berikutnya, siapa yang mengadili ”korban”?
Mari kita runut bersama. Jika hanya bisa mengadili yang kecil, itu tidak adil. Jika hanya berani mengadili yang lemah, itu pun tidak adil. Jika hanya tega mengadili yang miskin, itu tidak adil. Jika hanya bernyali mengadili ”ekor”, itu tidak adil. Ini berarti, yang dijadikan ”korban” adalah yang besar, yang kuat, yang kaya, yang pandai, dan yang bernomor urut satu. Gila? Memang …
Kemudian, siapa yang bisa mengadilinya? Aku, Anda, atau Ia? Yang jelas, bukan aku, bukan Anda, dan bukan Ia. Yang mengadilinya adalah Adil itu sendiri. Pertanyaan pun bergulir, siapa si Adil itu? Si Adil adalah Pemegang timbangan Adil. Siapa dia? Dia adalah yang bisa menghitung dengan benar, yang tidak mengurangi takaran hitungan. Menghitung dengan benar, fersi siapa? Nah, sampai di titik ini, silakan lihat fersi siapa sistem hitungan yang dipakai d tanah air ini. Jawabnya adalah Sistem Hitung (Bilangan) Hindu-Arab, bukan sistem bilangan Indonesia.
Dengan kata lain, keadilan yang dijunjung para penegak hukum adalah keadilan fersi sana, bukan fersi sini. Karena fersi sana, maka sana yang untung, sini yang buntung. Siapa sana, siapa sini? Sederhananya, sana adalah global, sini adalah Indonesia. Atau lebih sederhana lagi, sana adalah itik, sini adalah ayam. Itik hanya bisa bertelur, sementara ayam bisa bertelur dan juga bisa mengeram /mengasuh anak-anaknya. Dengan demikian, ketika timbangan adil dipegang global maka yang merasakan adil adalah global, sementara Indonesia sendiri justru menderita ketidak adilan.
Lantas, siapa yang memegang Adil? Sebagai sebuah ”benda” Adil ada yang memegang. Keadilan yang hakiki ada di tangan Tuhan YME. Sampai di sini pun muncul pertanyaan, Tuhan –nya siapa? Tuhan fersi Pancasila ataukah Tuhan fersi agama? Jika fersi Pancasila yang digunakan maka, adil yang dianggap adil oleh presiden itulah yang benar.
Sedangkan jika fersi agama yang digunakan maka perdebatan pun akan semakin panjang dan rumit. Sebab, setiap agama akan mempunyai tolok ukur dan kepentingan sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, adil yang dianggap adil oleh presiden itulah yang dipakai. Artinya, semua tuntutan keadilan akan bermuara pada keputusan presiden. Jika suatu perkara sudah diputus oleh presiden, semua harus mengikuti. Perkara sesudah itu muncul ketidak adilan, itu perkara lain. Siapa suruh berdasar negara Pancasila?
Nah, sekarang –misalnya– Anda sebagai presiden, sudahkah Anda bisa menghitung bilangan dengan sistem Indonesia? Jika belum bisa maka Anda harus mengadili diri Anda sendiri. Orang lain, sekalipun tahu Anda salah, tidak diperkenankan menyalahkan Anda. Sebab, Pancasila yang melarangnya. Oleh sebab itu, sekalipun sehari berganti presiden sebanyak seribu kali tidak kan berpengaruh pada tegaknya bandul keadilan selama presiden tidak berani mengadili dirinya sendiri.
Setelah presiden sadar diri dari kesalahannya –karena masih menggunakan sistem bilangan Hindu Arab– muncul pertanyaan berikutnya, apa tujuan Adil? Tujuan Adil adalah menciptakan ketertiban di muka bumi, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. Riilnya, setelah presiden sadar diri, sebagai kepala negara, presiden akan menertibkan dirinya sendiri. Dan, pada gilirannya akan tertib pula rakyatnya. Muaranya, Indonesia benar-benar dapat ikut menjaga ketertiban dunia.
Jika ada pertanyaan, apakah selama republik ini merdeka, presiden sendiri belum tertib? Dengan segala hormat, BELUM. Dari presiden pertama sampai ke tujuh, presiden berdiri di antara dua perahu … Makanya menjadi wajar, ketika seorang presiden jatuh akan jatuh pula pendukungnya, jatuh pula rakyatnya, dan jatuh pula negaranya …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 32. Apa tujuan Adil?

  1. Gerald Grattelo berkata:

    strong account you’ve get hold of

Komentar ditutup.