137. Kunjungan Rumah, Sebuah Bentuk Komunikasi yang Sering Terlupakan

Hubungan yang harmonis antara sekolah dengan orangtua /wali murid menjadi dambaan kita semua. Bentuk hubungan pun bermacam-macam, sat di antaranya adalah mengadakan kunjungan rumah. Sudah barang tentu, dalam hal ini, guru sebagai abdi masyarakat meluangkan waktu barang sejenak untuk melaksanakannya. Memang, dalam era yang sarat dengan kesibukan rutin dan ditambah dengan kesibukan insidentil, mengadakan kunjungan rumah merupakan kejadian yang langka. Jadi, sebuah fenomena yang wajar.
Kalau kita cermati, bentuk kunjungan rumah ada dua macam, yaitu : kunjungan rumah dalam suasana formal dan kunjungan rumah dalam suasana informal.
Kunjungan rumah dalam suasana formal adalah bentuk kunjungan rumah yang terjadi karena adanya permasalahan yang timbul antara anak didik dengan wara sekolah yang lain, antara anak didik dengan daya serapnya, dan sebagainya. Dengan demikian, kunjungan rumah dalam hal ini merupakan upaya untuk memberikan sugesti dan motivasi kepada orangtua /wali murid. Atau dengan kata lain, kunjungan rumah untuk tujuan pedagogi. Sedangkan kunjungan rumah dalam suasana informal adalah bentuk kunjungan rumah yang terjadi selain untuk tujuan tersebut.
Dalam praktik, batas antara keduanya menjadi sangat transparan. Sebab, kadang kala tujuan semula, guru hanya sekadar mengadakan anjangsana. Namun, orangtua /wali murid yang memulai melontarkan permasalahan yang timbul pada anaknya, atau bahkan sebaliknya. Maksud guru ingin menuntaskan suatu permasalahan, namun bergeser ke “perbincangan yang akrab”.
Pada keduanya, tidak ada yang salah, bahkan seyogyanya demikianlah adanya. Sebab, bagaimanapun juga, obyek yang dihadapi guru dan orangtua /walimurid adalah sama, yaitu sosok murid yang pada hakekatnya anak-anak orangtua /wali murid tersebut. Oleh karena itu, perbincangan antara dua figur yang berkompeten dalam perkembangan jiwa anak /murid tersebut tentu diharapkan adanya saling keterbukaan, saling pengertian, dan juga dilandasi saling percaya di antara mereka.
Pertanyaannya, kapan bisa melaksanakan kunjungan rumah? Sesungguhnya, selama ada itikad baik, kapanpun bisa, sepanjang tidak mengganggu aktivitas kegiatan belajar mengajar dalam kelasnya. Untuk tujuan pedagogi, kunjungan rumah dapat terjadi pada jam kosong bagi guru yang bersangkutan. Sedangkan untuk tujuan di luar itu, waktu yang tersedia pun cukup banyak. Misalnya, dengan memanfaatkan kejadian peting yang sedang dialami oleh anak (misalnya: ketika anak sedang sakit, atau ada keluarga anak yang tertimpa musibah, dan lain-lain). Di satu sisi, anak merasa diperhatikan oleh guru dan di sisi lain, orangtua juga merasa dihargai oleh guru anak-anaknya.
Langkah ini akan berdampak positif bagi guru yang bersangkutan, bagi sekolah, maupun bagi dunia pendidikan pada umumnya. Alhasil, jika guru sudah bias menggenggam hati para orangtua /wali murid dan murid-muridnya maka papun yang diprogramkan oleh guru /sekolah dapat dipastikan akan berjalan dengan lancer –atau paling tidak– tidak tersendat-sendat.
Menyimak uraian di atas, sepertinya terlalu berlebihan dan mudah. Padahal, dalam pelaksanaannya, tidaklah semudah dan sesederhana itu. Kendala pasti ada, baik karena faktor intern maupun faktor ekstern. Dari faktor intern, kendala tersebut antara lain berupa keterbatasan tenaga, waktu, dan sederet faktor X dari lingkup sekolah itu sendiri. Sedangkan faktor ekstern berasal dari lingkup orangtua /wali murid dalam menerima kunjungan tersebut.
Sebagai misal, mereka menanggapi kunjungan rumah yang dilakukan oleh guru dengan sikap dingin dan tak peduli, seakan-akan menggangu otoritas mereka sebagai penguasa tunggal anak-anak mereka. Makan hati? Tentu! Pada saat seperti itu, kesabaran, ketabahan, dan ketegaran hati seorang guru benar-benar teruji.
Namun, tidak sedikit orangtua /wali murid yang mau menerima kunjungan rumah dengan senang hati, meskipun untuk itu, mereka harus menyisihkan waktu. Untuk golongan kedua ini –mungkin—telah menyadari akan perlunya kerjasama yang baik antara mereka dengan guru dalam mendidik anak-anak mereka.
Yang jelas, sebelum melaksanakan kunjungan rumah, guru harus mempersiapkan diri terlebih dahulu, siap lahir batin. Sikap lahir, dalam arti kondisi fisik memungkinkan. Dan, siap batin dalam arti sanggup menerima dengan lapang dada apapun bentuk sambutan orangtua /wali murid. Tanpa persiapan, sebaiknya kunjungan rumah tidak dilaksanakan.
Banyak manfaat dapat dipetik dari pelaksanaankunjungan rumah. Sepanjang dilakukan dengan cara wajar, manfaat itu antara lain : guru dapat berkomunikasi secara langsung dengan orangtua /wali murid tentang “keberadaan” siswa baik saat di dalam kelas maupun saat di rumah, guru dapat melihat secara langsung ngan kondisi keluarga siswa, guru dapat menitipkan pesan-pesan khusus kepada orangtua /wali murid tentang cara memompa semangat anak, dan lain-lain.
Dengan memperhatikan beberapa manfaat pelaksanaan kunjungan rumah, sebuah bentuk komunikasi yang sering terlupakan, rasanya patut dihidupkan lagi … Apalagi bila diingat bahwa sebagai pembantu Kepala Sekolah dalam bidang kejiwaan kemuridan, satu di antara sekian tugas guru adalah mengadakan komunikasi dengan orangtua /wali murid. Relevankan dengan situasi saat ini? Tentu!!

Kepustakaan : Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Dasar, 1985

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Sisipan dan tag , , , . Tandai permalink.