138. SITI MASITAH

138. SITI MASITAH

Kramagung :
Matahari telah sepenggalah tingginya. Roda kehidupan mulai menggeliat bangun. Para budak belian kembali bekerja, sementara tuan-tuan mereka mengayunkan cemetinya jika pekerjaan mereka lambat, atau tidak berkenan di hatinya. Jerit kesakitan terdengar menyayat di kejauhan sana …
Sementara itu, putri Firaun bersama kawan-kawannya asyik menghibur diri. Mereka menyanyi dan menari bersama. Tak ada rasa sedih di hati mereka. Tak ada rasa sedih terpancar di wajah mereka … Masa perbudakan mencapai puncaknya …

Adegan 1
(Putri Firaun keluar bersama kawan-kawannya. Mereka menari bersama)
Puteri : Cukup …, aku lelah

Najwa : Kita istirahat sejenak, Tuan Puteri

Fulani : Iya. … aku juga lelah …
Danila : Pelayan, ambilkan buah untuk Tuan Puteri …!

(Pelayan keluar membawa nampan berisi buah. Ia menghampiri putri. Kemudian, puteri mengambil siiris, teman-teman putri melakukan hal yang sama. Pelayan masuk)

Puteri : Hmm, segaaaar …

Semua : Benar, Tuan Puteri

Fulani : Ini dipetik dari kebun istana lho …
Najwa : Oya? Wow, kita bakal sering makan buah seperti ini

Puteri : Cepat makannya …, kita segera mandi …

Danila : Siiip … Ayo, kawan-kawan … Kita temani Tuan Puteri ke kolam pemandian …
(Semua mengikuti puteri masuk. Siti Masitah dan Halimah keluar. Siti Masitah menyiapkan pakaian, Halimah membersihkan bunga-bunga di meja)

Adegan 2

Siti Masitah : Kau masih lama, Halimah?
Halimah : Tidak sebentar lagi juga selesai
Siti Masitah : Cepatlah sedikit … Kalau sudah, susullah Zubaidah Halimah : O, iya … anak itu biasa lambat kerjanya … Siti Masitah : Dimaklumi saja, Zubaidah … Namanya juga anak baru … Ia masih canggung …
(Zubaidah keluar membawa sebuah nampan berisi seperangkat alat rias)
Halimah : Untung kau cepat datang … Zubaidah : Maaf …, tadi salah masuk kamar … Siti Masitah : Haa, salah kamar? Lha kok bisa …

Halimah : Makanya diingat-ingat, jalan mana yang harus dilewati …

Zubaidah : Ya, sudah … sana letakkan di meja …

Siti Masitah : Ingat, nanti kalau Tuan Puteri datang kamu harus menunduk … Kita hanyalah budak …
Halimah :Tak boleh memandang wajahnya …
Zubaidah : Iya …
(Puteri keluar dengan mengenakan baju basahan, rambutnya terurai lepas. Semua memberi hormat)

Adegan 3

Siti Masita : Segar, Tuan Puteri?
Puteri : Iya, Bi … Segar sekali …
(Siti Masitah mendandani puteri, memakaikan baju, dan merias wajahnya)

Siti Masitah : Puteri memang jelita …
Halimah : Paling cantik sedunia …
Zubaidah : Nomor satu sepanjang masa … Betul tidak penonton …
Puteri : Ah …, kalian bisa saja … Aku jadi malu …

Siti Masitah : Silakan duduk, Tuan Puteri …
(Siti Masitah menyisir rambut putri. Tiba-tiba, sisirnya jatuh)

Siti Masitah : Innalillahi wa innalillahi roji’un …

(Puteri berdiri dan berkacak pinggang. Halimah dan Zubaidah menepi, mereka tertegun …)

Puteri : Bi …, apa kau bilang?!

Siti Masitah : Innalillahi wa innalillahi roji’un …
Puteri : Kau lancang, Bi…!! Yang jadi tuhan itu adalah ayahku …!!!

Siti Masitah : Maaf, Tuan Puteri …, itu salah… Yang jadi Tuhan adalah Allah SWT …

Puteri : Kau benar-benar lancang …!! Aku adukan kau pada ayahku … !!!

(Puteri masuk. Siti Masitah, Halimah, dan Zubaidah pun masuk. Sambil menggendong bayinya menangis, suami Siti Masitah dan dua anaknya keluar)

Adegan 4

Suami SM : Cuup … cuup … cuup … Sudah ya nangisnya …

Anak 3 : Kenapa adik, Ayah?

Anak 2 : Paling minta minum … Aku ambilkan ya …

Suami SM : Entahlah, mengapa adikmu ini … rewel terus …
Anak 3 : Aku tidak rewel ya, Ayah … Aku pintar …

Anak 2 : Aku juga pintar, … aku juga tidak rewel
Anak 3 : Pintar aku
Anak 2 : Pintar aku
Anak 3 : Pintar aku
Suami SM : Sudah, jangan berebut pintar… Tidak baik, kalian pintar semua
(Anak 1 keluar sambil membawa kayu bakar. Ia memberi salam, semua menjawab)
Anak 1 : Ibu belum datang, Ayah?
Suami SM : Belum … mungkin sebentar lagi … Kau sudah lapar?
Anak 1 : Belum, Ayah
Suami SM : Syukurlah, ini adikmu rewel terus …

(Bayi menangis. Siti Masitah keluar. Ia memberi salam, semua menjawab)

Adegan 5

Suami SM : Alhamdulillah, kau datang … Si Kecil nangis terus …
Siti Masitah : Oya? … Mungkin ia ngerti ibunya dapat musibah … Mana, aku gendong dia …
(Siti Masitah menggendong bayinya. Ia meninabobokkannya)
Suami SM : Kau tadi mengatakan dapat musibah, maksudmu … musibah apa?

Siti Masitah : Tadi, aku menyisir rambut Tuan Puteri … Lha, sisirnya jatuh …
Suami SM : Terus?

Siti Masitah : Aku kaget … dan spontan aku berteriak, “Innalillahi wa innalillahi roji’un …”.

Suami SM : Terus?

Siti Masitah : Tuan Puteri marah … dan … aku … aku … aku …

Suami SM : Aku … aku …, maksudmu? … Katakan istriku …
Siti Masitah : Aku … aku diadukan pada Firaun
Semua : Innalillahi wa innalillahi roji’un …

(Hening … )
Suami SM : Jangan khawatir, Istriku …
Anak 1 : Jangan takut, Ibu … Allah bersama orang-orang yang sabar

Suami SM : Kau benar, Anakku

Siti Masitah : Alhamdulillah … , kalian anak-anak yang sholeh dan sholiha … Ibu bangga pada kalian

Suami SM : Apapun yang akan terjadi, … kita hadapi bersama

Anak 1 /2 /3 : Benar, Ayah
Siti Masitah : Alhamdulillah, … hati Ibu merasa lega … Nah, ibu akan menidurkan adikmu …

Suami SM : Kalian bermain ya … Jangan nakal …

(Semua masuk. Firaun, perdana menteri, menteri 1 /2 /3, dan 2 orang pengawal keluar. Firaun duduk di singgasananya. Perdana menteri dan para menteri duduk di bawah, pengawal berdiri di kiri dan kanan Firaun)

Adegan 6

Firaun : Bagaimana pembangunan spink terakhir kita?
P. Menteri : Semua lancar … sesuai dengan rencana, Tuanku
Firaun : Bagus-bagus … Tak ada budak yang membangkang?

Menteri 1 : Ah, tidak ada … Mana berani mereka membangkang …
Menteri 2 : Apa ingin terkelupas punggungnya?

Menteri 1 : Apa ingin dikuliti tulangnya?

P. Menteri : Tuanku tenang saja …
Menteri 3 : Semua budak bagai kerbau dicocok hidungnya …
Firaun : Hahaha … hahaha … Dari dulu, nasib budak ya seperti itu …
Menteri 2 : Iya, dari dulu tetap seperti itu …

Menteri 3 : Makanya, biarkan mereka tetap menjadi budak.

P. Menteri : Siapa suruh jadi budak …
Firaun : Hahaha … hahaha … Kau pintar, Perdana Menteri

P. Menteri : Perdana Menteri dilawan …
Menteri 3 : Mau macam-macam , hmm …
(Perdana Menteri pamer kekuatan. Semua bertepuk tangan. Tuan Puteri keluar. Ia menyembah, lalu duduk di hadapan Firaun)

Adegan 7

Firaun : Ada apa, anakku yang cantik … anakku yang jelita? Kau datang tidak aku panggil … Puteri : Aku mau melaporkan Bibi Siti Masitah
Firaun : Kenapa dia?
(Puteri berdiri. Ia bercerita pada ayahnya, Firaun)

Firaun : Haa?! Kurang ajar dia!! … Tangkap Masitah beserta seluruh anggota keluarganya!! …
P. Menteri : Siap, laksanakan!
Firaun : Seret mereka ke hadapanku!!!

(P. Menteri berdiri dan menugasi pengawal. Dua pengawal masuk. Beberapa saat kemudian, mereka beserta Siti Masitah dan seluruh anggota keluarganya keluar. Mereka menyembah. Siti Masitah dan keluarganya, duduk. Pengawal kembali ke tempat semula)

Firaun : Masitah! Coba ulangi, apa yang kau ucapkan dihadapan puteriku …!!
Siti Masitah : Innalillahi wa innalillahi roji’un …
Firaun : Kau ngawur … Aku yang jadi Tuhan di negeri ini

Siti Masitah : Maaf, … tuanku …, salah
Firaun : Lalu, siapa yang jadi Tuhan?

Siti Masitah : Yang jadi Tuhan adalah Allah SWT. … Dia itu Esa … Dia tidak beranak, dan tidak diperanakkan … Dia Maha Pencipta… Alam seisinya ini adalah ciptaan- Nya … Dia juga menciptakan surga dan neraka … Dia … Dia … Dia …
(Firaun berdiri, ia menghentakkan kakinya)

Adegan 8

Firaun : Lancang kau, Masitah! …
Siti Masitah : Ampun, Tuanku … Tuanku yang salah …
Firaun : Pengawal …! Rebus air sampai mendidih dalam bejana yang besar …, cepat!!

(Dua orang pengawal bergegas masuk. Sesaat kemudian, mereka keluar)
Pengawal 1 : Air telah siap, Tuanku …
Firaun : Rebut bayinya …, lemparkan ke air …!!!

Siti Masitah : Anakku, … maafkan ibu …
Bayi : Jangan bersedih duhai ibuku … Apa yang Ibu lakukan sudah benar … Kelak, di surga kita akan bertemu … Selamat tinggal, Ibuku … Selamat tinggal, Ayah … Selamat tinggal kakak …Allahuakbar …

(Pengawal 1 merebut bayi Siti Masitah dan melemparnya ke dalam bejana. Anak 1/2/3 memeluk ayah dan ibu mereka)
Firaun : Kau berubah pikiran, Masitah?

Siti Masitah : Tidak, Tuanku
Firaun : Pengawal, lemparkan anaknya satu persatu ke dalam bejana …!

Siti Masitah : Jangan takut, Nak
Suami SM : Percayalah pada Allah SWT, anak-anakku

Anak 3 : Aku tidak takut …, Allahuakbar

(Pengawal mengangkat anak ke 3 dan melemparnya ke dalam bejana)

Anak 2 : Aku juga tidak takut … Adik …, aku menyusulmu … Allahuakbar

(Pengawal mengangkat anak ke2 dan melemparnaya ke dalam bejana)

Anak 1 : Selamat tinggal, Ayah … Selamat tinggal, Ibu … Aku akan menyusul adik-adikku … , Allahuakbar

(Pengawal mengangkat anak ke1 dan melemparnya ke dalam bejana)

Adegan 9

Firaun : Hahaha …, anak-anakmu telah habis, Masitah … Akui aku sebagai Tuhan, dank au aku bebaskan … Hahaha …
P. Menteri : Iya, Masitah … Menyerahlah, hidupmu pasti akan senang …

Siti Masitah : Tidak, Tuanku … Aku tidak akan menyerah … Allah SWT adalah Tuhanku Suami SM : Alhamdulillah, kau tegar istriku …

Siti Masitah : Maafkan aku, Suamiku

Suami SM : Kau tidak bersalah … Aku bangga menjadi suamimu …

Firaun : Baik, kau tidak mau menyerah juga … Pengawal, … lemparkan suaminya ke dalam bejana!!
Suami SM : Allahuakbar!

(Pengawal mengangkat suami Siti Fatimah dan melemparnya ke dalam bejana) Firaun : Tinggal kau seorang diri, Masitah … Menyerahlah …

Siti Masitah : Ampun, Tuanku … Sekali tidak, tetaplah tidak … Tuan, sebelum aku pergi … Maafkanlah semua kekuranganku dalam melayani Tuan …

(Semua tertegun)
Siti Masitah : Pengawal, aku telah siap … Allahuakbar …!!!
(Pengawal mengangkat Siti Masitah tinggi-tinggi dan melemparnya ke dalam bejana)

Layar ditutup, TAMAT.
Taman Larangan, 17 Indonesia 1661 I

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag , , , . Tandai permalink.