Tarian Raja Garuda


Tarian Raja Garuda

Kata “tarian” sedikit banyak menggiring imajinasi Anda ke ranah seni tari. Padahal, kata tersebut dipergunakan untuk menyamarkan gerak yang dimaksud agar tercapai tujuan yang hendak digapai tanpa harus jatuh korban, baik dari pihak yang seiring maupun dari pihak yang menungging. Raja adalah simbul pemimpin yang segala gerak lakunya akan dijadikan panutan oleh pengikut /rakyat -nya. Sungguhpun berat untuk mengakui, budaya paternalistik melekat erat pada bangsa Indonesia. Tidak peduli dari suku, agama, ras, maupun strata mana mereka berasal. Sedangkan Garuda merupakan lambang bagi bangsa Indonesia. Konon, garuda adalah raja burung dalam cerita rakyat.

Secara harfiah, sesungguhnya yang dimaksud dengan Tarian Raja Garuda adalah manuver bilangan dalam menata peri kehidupan berbangsa dan bernegara. Bilangan melakukan manuver? Mana mungkin, bilangan itu abstrak. Jika argumen itu yang Anda keluarkan maka dengan segala hormat, Anda salah. Pada kondisi tertentu, bilangan memang abstrak. Namun, dengan menggunakan Sistem Bilangan Indonesia, bilangan yang abstrak tersebut menjadi konkrit. Contoh : Se- Indonesia = 10128

Nilai se- Indonesia dapat ditemukan karena bilangan Noto (1064) telah meragakan Tarian Raja Garuda. Anda bingung? Jujur, saya maklum. Sudah terlalu lama Anda minum “cekokan” pelajaran dari guru “sini” dengan ilmu “sana”. 64 tahun lebih bangsa Indonesia telah dibuat asing menjadi asing dengan negara bangsanya sendiri. Anda harus sadar, Anda orang Indonesia. Karena itu, hiduplah dengan cara Indonesia, berpikirlah dengan cara Indonesia, bertingkah lakulah selayaknya orang Indonesia. Apakah saya menggurui Anda? Tidak, sekali-kali tidak. Anda terlalu pintar untuk digurui!

Sudah sering saya tulis, Indonesia adalah sebuah peradaban, bukan sekadar negara bangsa. Sebagai sebuah peradaban, padanya semua menyatu, utuh, dan padu. Indonesia bukan Jawa, bukan Sumatera, bukan Kalimantan, bukan Sulawesi, bukan Papua, atau yang lain. Indonesia itu ada sendiri, memiliki teritorial sendiri, memiliki sistem sendiri. Indonesia tidak latah meskipun hidup di dunia yang sakit karena latahisme …

Segala gerak lakunya bermartabat. Sebab, tujuan akhir yang hendak dicapai adalah keridhoan Tuhan Semesta Alam, bukan dunia beserta isinya yang fana. Taruhlah semua orang di negeri ini setuju terhadap sesuatu, namun, jika Tuhan Yang Maha Esa tidak menghendaki maka akan ada saja cara –Nya untuk memperingatkan /menolaknya. Untuk itu, mari berhenti sejenak dan merefleksi perjalanan sejarah bangsa.
Masih belum sadarkah Anda bahwa ada yang salah dalam pendidikan bangsa ini? Tolok ukurnya mudah, Jika Anda menolak sebagian dan atau /seluruh isi blog ini maka jarak saya dengan Anda adalah sejauh timur dan barat. Itu berarti, Anda belum sadar. Namun, jika menerima maka jarak kita sedekat ibu jari dengan telunjuk –dan artinya, Anda telah sadar. Saya tidak memaksa Anda untuk mempercayai saya. Sebab, yang bisa memaksa Anda adalah diri pribadi Anda sendiri. Saya pun tidak akan menggurui Anda. Sebab, guru sejati Anda ada di dalam hati Anda sendiri. Dia tidak pernah meninggalkan Anda barang sedetikpun …

Dia tidak akan berbohong kepada Anda. Dia juga tidak akan memetik keuntungan dari perilaku Anda. Dia akan selalu menunjukkan jalan yang lurus dan benar agar Anda selamat dalam kehidupan kini dan dalam kehidupan kemudian.

Memang, global menawarkan segala kemewahan dan kenikmatan. Tapi ingat, semuanya hanyalah tipu daya yang penuh jebakan. Masih akan berkilah apalagi? Masih akan bersembunyi di mana lagi? Maaf, guru Anda sudah dinilai Tanpa Tanda Jasa dengan Hymne Guru. Artinya, nilai pendidikan yang mereka berikan adalah Nol Besar bagi INDONESIA. Jadi, Anda HARUS “berani” belajar sendiri untuk terbang … Belajar sendiri tidak berarti tanpa ada guru!

Mungkin Anda bertanya, apa hubungan antara semua ini dengan tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini? Pertanyaan tersebut wajar. Blog ini adalah Tarian Raja Garuda fersi saya. Bisa jadi, menurut Anda akan lain karena pendekatan yang kita gunakan berbeda. Saya menggunakan pendekatan bilangan karena relatif aman bagi semua. Realita menunjukkan pendekatan politik telah makan korban (kasus 1965), pendekatan militer pun setali tiga uang (kasus DOM Aceh dan yang lain), pendekatan ekonomi pun hanya menghasilkan eksploitasi sumber daya alam di satu sisi serta pameran kemiskinan di sisi lain, dan entah apa lagi.

Hanya saja, perlu diingat bahwa debat berkepanjangan hanya akan menghasilkan perpecahan. Lihat akhir dari Konstituante, sudah menguras energi, ujung-ujungnya dimentahkan dengan Dekrit Presiden, 5 Juli 1959. Oleh karena itu, sikap legowo harus dibuktikan. Jika salah, mengakulah salah. Tidak perlu lagi mengkambinghitamkan orang lain. Toh, di era yang sangat transparan ini, semua nampak transparan dan nyaris telanjang. Atau dengan kata lain, semua kartu sudah mati. Jadi, wajar jika Allah SWT. menurunkan peringatan atau mungkin sudah sampai pada tahap azab –Nya.

Pada akhirnya, bangsa Indonesia harus berani belajar kembali untuk meletakkan dasar yang lebih kokoh di atas dasar yang sudah ada. Caranya adalah dengan berhenti sejenak untuk membangun kebenaran di atas kebenaran. Belajar kembali tidak identik dengan kembali ke bangku sekolah. Tempat belajar bagi mantan murid adalah di kehidupan nyata dan yang menjadi guru adalah Kepala Negara, meskipun hanya sehari. Kapan? Entah …

Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s